kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.013,51   -2,48   -0.24%
  • EMAS932.000 0,22%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Simak Saran Racikan Portofolio di Tengah Era Kenaikan Suku Bunga


Kamis, 22 September 2022 / 16:38 WIB
Simak Saran Racikan Portofolio di Tengah Era Kenaikan Suku Bunga
ILUSTRASI. Investor bisa mengurangi porsi saham dan memperbesar porsi pasar uang dan obligasi.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar memasuki era kenaikan suku bunga. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga sebesar 75 basis points (bps) pada Kamis (22/9) dini hari. Langkah ini diikuti oleh Bank Indonesia.

Pada Rapat Dewan Gubernur, Kamis (22/9), bank sentral Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25%, dengan suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility menjadi 5%.

Kepala riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengatakan, investor harus meracik alokasi investasi yang defensif. Di tengah sentimen kenaikan suku bunga, investor bisa melirik saham-saham berbasis komoditas yang memang menjadi unggulan Indonesia seperti batubara dan juga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Selain itu, investor juga bisa mencermati emiten telekomunikasi.

“Saham-saham komoditas masih menjadi pelindung, kemudian telekomunikasi,” terang Agus kepada Kontan.co.id, Kamis (22/9).

Investor bisa mencermati saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Baca Juga: Meski Bankir Belum Naikan Bunga, Debitur KPR Sebaiknya Mulai Bersiap

Agus mengatakan, di era suku bunga yang mulai tinggi investor bisa mengalokasikan 50% investasi dalam bentuk saham. Sisanya bisa instrumen lain seperti obligasi.

“Saat ini saya perkirakan pasar masih akan volatile sampai The Fed ada kejelasan mengenai kebijakan suku bunga,” tambah Agus.

Senada, Senior Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina menilai, instrumen saham tetap menarik di tengah era kenaikan suku bunga. Ini karena saham berpotensi memberikan return di atas produk investasi lain.

“Saham perbankan layak dicermati, karena kemungkinan naiknya net interest margin (NIM), seiring kenaikan suku bunga kredit,” terang Martha kepada Kontan.co.id, Kamis (22/9)

Baca Juga: Otak-atik Portofolio Saham ala Saratoga (SRTG), Perusahaan Milik Edwin dan Sandiaga

Sehubungan dengan kenaikan suku bunga, Martha menilai investor bisa mengurangi porsi di saham dan memperbanyak instrumen pasar uang dan obligasi. Menurut dia, dengan kenaikan suku bunga, biasanya investor akan meningkatkan investasi di porsi investasi yang risikonya lebih rendah. Jika biasanya porsi portofolio saat ini 20% di pasar uang, 40% di obligasi, dan 40% saham, investor bisa bergeser menjadi 30% pasar uang, 40% obligasi, dan 30% dalam bentuk saham.

Ke depan, Martha menilai, sentimen utama pasar masih berasal dari kondisi ekonomi Indonesia. Selama indikator ekonomi Indonesia tumbuh positif bahkan di atas ekspektasi, didukung nilai tukar rupiah yang stabil, maka akan menjadi sentimen yang positif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Sementara Agus menilai kebijakan suku bunga dan harga komoditas masih menjadi sentimen yang berpengaruh terhadap IHSG.  “Kalau harga komoditas masih tinggi, ekonomi masih bagus,” tutup dia.

Selanjutnya: Bawaslu Minta Dukungan Jokowi untuk Pengawasan Pemilu 2024

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×