kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45908,54   -10,97   -1.19%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sepekan ke depan, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan


Minggu, 19 Juli 2020 / 12:07 WIB
Sepekan ke depan, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,37% ke level 5.079,59 pada Jumat (17/7). Namun selama sepekan, IHSG menguat 0,96%.


Reporter: Kenia Intan | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,37% ke level 5.079,59 pada Jumat (17/7). Namun selama sepekan, IHSG tercatat menguat 0,96%.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, IHSG pekan lalu cenderung menguat karena rilis data-data ekonomi yang dipandang baik.

"Hasil rilis data ekonomi Indonesia berupa trade balance, interest rate, serta penjualan mobil yang yang baik dan sesuai dengan ekspektasi investor," jelas Hendriko kepada Kontan.co.id, Jumat (19/7). Ia menambahkan, IHSG yang terkerek didukung kenaikan harga beberapa komoditas.

Seminggu ke depan, Hendriko memperkirakan, IHSG berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Level support IHSG akan berada pada 4.986 hingga 5.000 dan resistance di 5.300.

Baca Juga: Proyeksi IHSG pekan depan, analis: Senin jadi kunci

Sementara, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menebak, IHSG pekan depan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 5.069 sampai 4.985 dan resistance di level 5.116 sampai 5.139.

Dalam risetnya, Minggu (19/7), pasar saham masih akan dibayangi sentimen terkait Covid-19, seperti peningkatan kasus infeksi Covid-19 di berbagai negara bagian Amerika Serikat (AS) dan potensi semi lockdown dan penundaan pembukaan ekonomi.

 "Perkembangan vaksin Covid-19 selalu jadi perhatian pelaku pasar, tetapi kami perkirakan paling cepat akhir tahun ini vaksin baru ditemukan," jelas Hans Kwee.

Selain itu, pembahasan stimulus baru di AS akan menjadi perhatian pelaku pasar menyusul berakhirnya beberapa stimulus fiskal AS pada 31 Juli 2020.

Adapun, data ekonomi Amerika yang variatif di pekan lalu juga akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Sengketa antara AS dan China masih menjadi perhatian pelaku pasar. "Peningkatan ketegangan kedua negara akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan," imbuh Hans Kwee.

Adapun data-data yang dirilis China dipandang masih menarik, sebab terjadi perbaikan pada data produk domestik bruto (PDB) dan ekspor impor. Data ini memberikan indikasi ekonomi China mulai pulih setelah lockdown ketat akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga: Mengintip prospek IHSG pekan depan, masih bisa menguat?

Sentimen global lainnya, pelaku pasar menantikan hasil KTT Uni Eropa di Brussels. Banyak perbedaan diantara negara zona Eropa, tetapi pasar berharap ada terobosan dalam pertemuan tersebut.

Pelaku pasar juga masih menunggu data laporan keuangan emiten di kuartal III 2020.  Rilis data itu merupakan pembuktian apakah perusahaan berbasis teknologi mampu menunjukan kinerja yang baik.

Sekadar informasi, mengutip keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar bursa menguat 0,97% selama sepekan terakhir, menjadi sebesar Rp 5.885,44 triliun dari sebelumnya Rp 5.828,78 triliun.

Adapun rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan sebesar 8,58% menjadi 604.425 ribu kali dibandingkan 661.177 ribu kali pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian bursa menjadi 8,521 miliar saham, turun 2,69% dibanding pekan sebelumnya yang tercatat 8,757 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian pasar pun turut mengalami penyusutan sebesar 12,62%, menjadi sebesar Rp 6,943 triliun di pekan lalu dari Rp 7,946 triliun di pekan sebelumnya.

Baca Juga: Ini deretan saham top gainers selama sepekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×