kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sentimen Brexit membuat pasangan GBP/USD tertekan


Selasa, 15 Oktober 2019 / 20:09 WIB

Sentimen Brexit membuat pasangan GBP/USD tertekan
ILUSTRASI. Ilustrasi uang poundsterling Inggris.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembahasan mengenai rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) atau Brexit masih akan mendominasi pergerakan pasangan kurs GBP/USD. Bahkan Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin memperkirakan pergerakan GBP/USD masih akan terbebani perkembangan kondisi Inggris. 

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Selasa (15/10) pukul 18.48 WIB pasangan GBP/USD terpantau menguat 0,25% di level 1,2640. Namun, Nanang menekan bahwa pekan ini Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa, tepatnya 17 Oktober-18 Oktober. 

Meskipun sinyal kesepakatan Brexit sudah muncul dari pertemuan PM Inggris dengan PM Irlandia pekan lalu, namun Ketua Negosiator Komisi Eropa, Michel Barnier justru mengindikasikan bahwa perundingan belum membuat kemajuan yang cukup untuk menjadi dasar bagi kesepakatan. 

"Hal itu membebani pergerakan GBP/USD," jelas Nanang kepada Kontan.co.id, Selasa (15/10).

Sebagaimana diketahui, akhir pekan lalu GBP/USD menguat tajam hingga ke level tertingginya dalam dua bulan. Optimisme akan adanya deal Brexit kini semakin menguat, apalagi Kamis lalu Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson sudah bertemu dengan PM Irlandia Utara Leo Varadkar, untuk membahas masalah backstop atau perbatasan bebas bea masuk antara Irlandia Utara dengan Republik Irlandia.

Baca Juga: FOREX: Sinyal Kuat dari Brexit bagi penguatan GBP/USD hari ini

Dalam pernyataan bersama usai pertemuan selama tiga jam, kedua pimpinan tersebut kompak menyatakan diskusinya berjalan mendetil dan konstruktif dan membuka jalan menuju deal Brexit. 

Irlandia Utara merupakan bagian dari Inggris Raya, dan masalah backstop menjadi ganjalan utama Brexit. Inggris tidak menginginkan adanya backstop.

Analis Brexit dari bank investasi JP Morgan, Malcolm Barr mengatakan kini memperkirakan potensi terjadinya deal Brexit sebesar 50%. Barr menambahkan deal kemungkinan terjadi dengan modifikasi atau adanya backstop dengan batas waktu. Senada dengan JP Morgan, Goldman Sachs juga memprediksi kemungkinan terjadinya no-deal Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun cukup kecil. 

"Kemarin, poundsterling juga turun terhadap dollar AS dan euro, setelah Inggris dan Uni Eropa menekankan pada akhir pekan bahwa ada jalan panjang sebelum mereka bisa menyetujui kesepakatan Brexit," ungkapnya. 

Alhasil poundsterling melonjak akhir pekan lalu setelah London dan Brussels mengumumkan negosiasi intensif untuk mencoba dan menyetujui kesepakatan Brexit sebelum 31 Oktober.

Secara teknikal pergerakan pasangan GBP/USD tengah mewaspadai perpotongan Moving100 dengan kedua moving13 dan 26. Di mana, untuk moving100 berada di bawah kedua moving tersebut. Kondisi tersebut mengindikasikan ruang kenaikan lanjutan yang berpotensi terjadi timeframe D1 cukup panjang.

Parameter lainnya, seperti indikator MACD sudah berada di zona positif di hari ketiga kini, mengokohkan posisi penguatan GBP/USD, ditambah stochastic yang belum menunjukkan perpotongan ke bawah. Sedangkan RSI 14 pun masih beranjak naik, kendati sudah berada di atas 70.

Baca Juga: Analis Best Profit rekomendasikan sell GBP/USD, ini alasannya

Untuk perdagangan Rabu (16/10) Nanang merekomendasi buy untuk pasangan GBP/USD dengan level resistance 1,2847, 1,2786, dan 1,2725. Sedangkan untuk level support berada di 1,2603, 1,2542, dan 1,2481.


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×