Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan pada Jumat (27/3/2026), dengan penurunan 0,94% ke level 7.097,05.
Tekanan pasar kian terasa karena seluruh indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat masih berada di zona negatif sepanjang tahun berjalan 2026.
Di antara indeks utama, IDX80 menjadi yang paling tertekan. Indeks yang berisi 80 saham likuid dan berkapitalisasi besar ini anjlok hingga 16,98% secara year to date (ytd), dan turun 1,38% secara harian ke level 110,04.
Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menilai pelemahan IDX80 merupakan hasil kombinasi tekanan global dan domestik.
Baca Juga: IHSG Ambruk di Akhir Pekan, Saham Big Banks Paling Banyak Dilego Asing, Jumat (27/3)
Dari eksternal, ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah memicu sentimen risk-off, sehingga aliran dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor global juga beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi.
Dari dalam negeri, tekanan diperkuat aksi ambil untung setelah reli pada akhir 2025 serta koreksi saham-saham berkapitalisasi besar yang mendominasi bobot IDX80.
“Kombinasi faktor global dan domestik membuat kinerja indeks tertekan sejak awal tahun,” ujar Elandry.
Sektor perbankan besar menjadi kontributor utama pelemahan, seiring arus keluar dana asing dan normalisasi ekspektasi margin.
Selain itu, sektor konsumer non-primer terdampak pelemahan daya beli, sementara saham teknologi dan growth terkoreksi lebih dalam akibat sensitivitas terhadap suku bunga tinggi.
Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Terkoreksi 0,93% Akhir Pekan Ini
Sektor properti dan konstruksi juga masih menghadapi tekanan dari lemahnya permintaan dan tingginya biaya pendanaan.
Ke depan, pergerakan IDX80 masih sangat dipengaruhi dinamika global, terutama perkembangan konflik geopolitik dan arah suku bunga.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai secara valuasi IDX80 sudah mendekati area menarik.
"Namun belum mencapai titik bawah dari sisi timing," ujarnya.
Menurut Liza, arah pasar akan ditentukan oleh tiga faktor utama: stabilisasi harga minyak dan meredanya konflik AS-Iran, kejelasan kebijakan suku bunga global terutama The Fed, serta pemulihan kepercayaan terhadap pasar domestik.
Jika ketiga faktor tersebut membaik, IDX80 berpeluang rebound signifikan. Namun dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih volatil dan berada dalam fase pembentukan dasar (bottoming).
Elandry menambahkan, pasar saat ini cenderung bergerak mengikuti sentimen berita dengan volatilitas tinggi. Katalis positif antara lain potensi deeskalasi konflik, peluang penurunan suku bunga global, stabilisasi rupiah, serta kembalinya dana asing.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,56% dalam Sepekan Belakangan, Ini Penyebabnya!
Sebaliknya, risiko utama datang dari eskalasi konflik, kenaikan harga energi, tekanan inflasi global, dan berlanjutnya capital outflow.
Meski demikian, peluang pemulihan tetap terbuka secara bertahap, dengan strategi selektif berbasis sektor menjadi kunci.
Sektor energi dan komoditas dinilai masih menarik dalam jangka pendek hingga menengah, sementara perbankan besar berada di posisi netral dengan potensi pulih jika arus dana asing kembali stabil.
Untuk saham pilihan, Elandry melihat BBCA berpotensi menuju Rp 7.000–Rp 7.300 dan BBRI ke Rp 3.450–Rp 3.520. Dari sektor energi, ADRO diperkirakan bergerak ke Rp 2.630–Rp 2.720 dan ANTM ke Rp 3.580–Rp 3.700.
Baca Juga: Cek Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas untuk Jumat (27/3)
Sementara itu, saham konsumer seperti ICBP berpeluang naik ke Rp 7.350–Rp 7.500 dan AMRT ke Rp 1.540–Rp 1.800. Pada kategori berisiko tinggi, BUMI diproyeksi ke Rp 226–Rp 248 dan BRMS ke Rp 750–Rp 800.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













