Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (8/1/2026).
IHSG mengakhiri reli dengan terkoreksi 0,22% atau 19,34 poin ke level 8.925,47 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 54,78 miliar dengan nilai transaksi Rp 28,45 triliun. Ada 302 saham yang menguat, 370 saham yang melemah dan 138 saham yang stagnan.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, meskipun sempat mencetak level tertinggi sepanjang masa (ATH) di 9.002 intraday, IHSG gagal mempertahankan penguatannya hingga penutupan akibat tekanan jual dan aksi profit taking.
Terutama, pada saham-saham kapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (7/1)
“Kondisi ini mencerminkan respons wajar pasar setelah reli signifikan dalam beberapa hari terakhir,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (8/1).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat, sektor basik material mencatatkan koreksi terbesar akibat profit taking setelah reli selama beberapa hari terakhir.
Sebaliknya, sektor transportasi rebound sehingga membukukan penguatan terbesar.
Rupiah hari ini juga berlanjut melemah pada level Rp 16.785 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
“Ini didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta defisit APBN 2025 yang lebih besar dari target,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Untuk perdagangan Jumat, Reza melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan tekanan jual terbatas.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Ini seiring dengan berlanjutnya aksi profit taking jangka pendek, serta kondisi teknikal IHSG yang sudah berada di area overbought.
Pasar juga akan mencermati sejumlah sentimen penting. “Yaitu, Data Consumer Confidence Indonesia, serta rilis data global seperti Non-Farm Payroll (NFP) AS dan Unemployment Rate AS,” ungkapnya.
Reza memproyeksikan IHSG diproyeksikan bergerak pada level resistance di level 8.960 – 9.000 dan support di 8.895 – 8.910 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).
Secara teknikal, kata Alrich, indikator Stochastic RSI IHSG di akhir perdagangan hari ini berada di area overbought dan berpotensi membentuk Death Cross.
Selain itu, IHSG membentuk pola Shooting Star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru.
Sehingga, Alrich memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.850-8.900 pada perdagangan besok.
Dari domestik, sentimen berasal dari defisit APBN mencapai Rp 695.1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92% dari PDB. Ini lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2.3% dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2.53% dari PDB.
Baca Juga: Emiten Jasa Pendukung Bisnis Dinilai Cerah pada 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis
Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun atau mencapai 91,7% dari target. “Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari anggaran,” kata Alrich.
Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$156.5 miliar di Desember 2025 dari US$ 150,1 miliar di November 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri.
Level ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2025, dan setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri.
“Selanjutnya, investor esok hari akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif,” katanya.













