kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sekitar 90% investor saham Indonesia gagal, simak cara ampuh para investor ini


Minggu, 28 April 2019 / 17:10 WIB
Sekitar 90% investor saham Indonesia gagal, simak cara ampuh para investor ini

Reporter: Aloysius Brama | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - SURABAYA. Perkembangan pasar modal kian meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan hingga Maret 2019 terdapat 1,7 juta investor di pasar modal. Selama lima tahun terakhir, jumlah single investor identification (SID) saham meningkat 151% dari 364.465 menjadi 915.675. Sedangkan tahun ini, OJK menargetkan penambahan investor sejumlah 250.000 orang kepada otoritas bursa serta perusahaan SRO terkait.

Namun tahukah anda bahwa dari jumlah investor yang besar itu, 85% hingga 90% investor gagal. Hal itu disampaikan oleh akademisi keuangan dan investasi, Lukas Setia Atmaja dalam acara Capital Market Summit and Expo 2019 di Dyandra Convention Centre Surabaya, 27 April 2019 lalu.


Lukas mengatakan, hal tersebut terjadi lantaran para investor tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai dalam berinvestasi saham. Selain itu, kerap kali para investor di pasar modal hanya terjebak dengan data teknikal suatu saham lalu membuatnya menjadi investor jual-beli saja.

Lukas mengungkapkan model investasi yang disebut dengan investasi nilai. Investasi nilai adalah model investasi saham yang mendorong para investor untuk tidak takut membeli suatu saham yang harganya berada di bawah nilai.

Meski begitu ada aspek lain yang tetap perlu diperhatikan yakni dengan mengenali perusahaan yang sahamnya akan dibeli itu. Tak cukup dengan satu perusahaan, investor juga harus memerhatikan bagaimana prospek sektor perusahaan tersebut. Dengan memerhatikan aspek-aspek tersebut, investor akan dapat mendapatkan proyeksi mengenai perusahaan mana yang akan mengalami turn-around nilai saham perusahaannya.

Untuk itu Lukas menyebut setidaknya ada tiga rumus kunci sukses bagi para investor saham. Rumus itu ia ringkas dalam tiga abjad yakni “KSW”. “K untuk knowledge, S untuk skill dan W untuk wisdom,” kata Lukas.

Knowledge ia sebut meliputi beberapa hal seperti pengetahuan dasar mengenai pasar saham, pengetahuan mengenai profil serta kinerja perusahaan, pengenalan terhadap prospek ekosistem industri. “Jangan sampai kita membeli saham perusahaan yang tidak menerapkan good corporate governance alias perusahaan bodong,” kata Lukas.

Selain itu, para investor nilai juga mesti mengedepankan pengetahuan dan kemampuan untuk membaca data-data ekonomi seperti laporan keuangan perusahaan. Menurutnya dari kemampuan membaca laporan keuangan, investor bisa saja menemukan harta karun berupa perusahaan-perusahaan yang under value sehingga berpotensi mengalami turnaround di masa depan. “Laporan keuangan perusahaan adalah bahasa investasi. Sebagai investor, terutama investor nilai, kita mestinya mengenali itu sebagai dasar,” papar Lukas.

Setelah kita memiliki dasar pengetahuan yang memadai, maka selanjutnya kita mesti mengedepankan skill. Skill ini meliputi beberapa hal seperti analisis, riset, mengedepankan rasionalitas kritis dalam mengambil keputusan hingga kemampuan untuk mensintesakan berbagai informasi yang telah diterima sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Tak hanya berhenti kemampuan, para investor nilai yang berhasil mendapatkan cuan dari investasinya juga harus memiliki sikap-sikap atau wisdom dalam berinvestasi. “Harus sabar, bisa mengontrol emosi, dan percaya diri. Percayalah, itu lebih sulit dari knowledge dan skill,” kata pengajar di Universitas Prasetya Mulya itu.

Model investasi nilai telah membuat dunia mengenal Warren Buffett. Buffett adalah seorang investor saham ulung yang mengedepankan investasi nilai sebagai model penerapan investasinya. Atas model investasi tersebut serta kemampuan yang memadai, Buffett kini berada di posisi ketiga sebagai orang terkaya di dunia versi Forbes.

Bila dunia mengenal Buffett, Indonesia mengenal sosok Lo Kheng Hong sebagai Warren Buffett-nya Indonesia. Hal ini lantaran Lo memiliki prinsip yang mirip dengan Buffet dalam berinvestasi saham yaitu mengedepankan model investasi nilai.

Lo sangat hobi menggunakan uangnya untuk dibelikan saham. Ia mengaku hampir menyimpan 85% uangnya ke dalam instrumen saham dan membiarkannya dalam jangka waktu menahun. “Saya hanya simpan uang di bank sekitar 15% dari total yang saya punya untuk jaga-jaga bila ada force majeure,” kata Lo, Sabtu (27/4).

Dalam kesempatan yang sama, Lo mengisahkan ceritanya dalam membeli saham-saham yang harganya berada di bawah nilai. Seperti misalnya ketika ia membeli saham JPFA pada tahun 2007 silam. Lo menemukan bahwa saham tersebut mengalami salah harga. Hal itu ia lakukan dengan menganalisis laporan keuangan JPFA.

Pada tahun itu, earnings per share (EPS) alias laba bersih per saham JPFA sebesar Rp 160 per saham. Sedangkan harga sahamnya saat itu hanya sebesar Rp 370 per saham. Dengan begitu, price earnings ratio (PER) atau rasio harga saham terhadap laba bersih hanya sebesar 2,3 kali. Bagi Lo, PER JPFA tersebut masih masuk kualifikasinya lantaran Lo hanya melirik saham dengan PER di bawah 5 kali.

Lo juga mengingatkan bahwa dalam investasi nilai, investor juga harus melihat kinerja perusahaan yang tertuang dalam laporan keuangan. “Kita juga harus lihat bagaimana pendapatan suatu usaha dari tahun ke tahun, pertumbuhan labanya, serta rasio laba terhadap pendapatan,” kata Lo.

Lo mengaku tidak pernah melihat data teknikal yang disediakan aplikasi penyedia jasa trading. Menurutnya, investasi dengan mengacu pada teknikal hanyalah teknik omong kosong lantaran investor sangat rawan mengalami kerugian.

Terkait pilihan saham untuk investasi jangka panjang, Lo memberi resep bagi para calon investor untuk mengamati saham-saham yang berpotensi mengalami turn-around. Menurutnya, saham emiten komoditas bisa menjadi opsi pilihan saham investor.

Komoditas seperti batubara, pulp, timah dan yang lain memang cenderung mengalami fluktuasi harga. Namun menurut Lo, bila suatu komoditas mengalami penurunan harga, kelak komoditas itu pasti juga akan mengalami kenaikan lagi. “Paling tidak untuk investasi jangka panjang, emiten komoditas bisa menjadi opsi menarik,” tutur pria yang dahulu keluarganya adalah pemecah kelapa itu.

Apa yang dikatakan oleh Lo benar adanya. Terbaru ia dikabarkan akan menerima dividen dari PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp 16,5 miliar pada tahun ini. Jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat dimana pada tahun 2017, Lo menerima dividen sebesar Rp 7,12 miliar. Jumlah itu meningkat seiring dengan kepemilikan saham Lo yang juga bertambah di perusahaan kontraktor pertambangan itu.

Lo juga menambahkan bahwa dalam investasi nilai, diversifikasi saham tidaklah terlalu penting. Menurutnya, yang utama dari investasi nilai adalah bahwa investor mengenali apa yang ia beli dan hanya membeli saham yang ia kenali. “Kalau ketemu 10 saham emiten dengan kualifikasi baik, harus kita seleksi lagi menjadi katakanlah lima emiten. Dari lima itu nanti harus kita seleksi lagi mana yang paling menarik,” tandasnya.

Untuk itu, Lo punya rumus investasi yang ia ringkas menjadi rumus RTI yaitu read, think, dan invest. Read berarti para investor harus memiliki kemampuan membaca kondisi industri perusahaan terkait dan kondisi perusahaan itu sendiri melalui data dalam laporan keuangan. Sedangkan think adalah ketika para investor mengelaborasi hasil analisisnya untuk dijadikan pijakan pengambilan keputusan.

Sedangkan invest berarti para investor harus terjun langsung mempraktikkan investasi tersebut. “Percuma kalau pengetahuan dan skill memadai tapi tidak ada keberanian mengambil investasi,” ujar pria yang dahulu bekerja sebagai kepala cabang sebuah bank itu.



Video Pilihan

TERBARU

×