kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.694.000   -13.000   -0,76%
  • USD/IDR 16.401   5,00   0,03%
  • IDX 6.606   19,09   0,29%
  • KOMPAS100 964   -2,78   -0,29%
  • LQ45 747   -0,24   -0,03%
  • ISSI 206   0,68   0,33%
  • IDX30 388   0,44   0,11%
  • IDXHIDIV20 470   1,92   0,41%
  • IDX80 109   -0,32   -0,29%
  • IDXV30 114   -1,22   -1,06%
  • IDXQ30 127   0,06   0,05%

Sejumlah Emiten Kantongi Pinjaman Perbankan, Cermati Dampaknya ke Kinerja Perseroan


Rabu, 26 Februari 2025 / 15:29 WIB
Sejumlah Emiten Kantongi Pinjaman Perbankan, Cermati Dampaknya ke Kinerja Perseroan
ILUSTRASI. Sejumlah emiten telah memperoleh fasilitas kredit bank hingga pertengahan kuartal I-2025. Mayoritas pinjaman tersebut bakal digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.KONTAN/Baihaki/19/8/2014


Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten telah memperoleh fasilitas kredit bank hingga pertengahan kuartal I-2025. Mayoritas pinjaman tersebut bakal digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Yang terbaru, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) bersama anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), sebagai agen fasilitas penjamin, telah menandatangani perjanjian amandemen ketiga perjanjian fasilitas serta additional commitment lender accession agreement atau dokumen transaksi.

Penandatanganan dokumen transaksi itu sehubungan dengan pemberian komitmen tambahan atau fasilitas akordion oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) alias BCA dengan jumlah pokok agregat sebesar US$ 250 juta, atau yang setara dalam mata uang rupiah. Dalam perjanjian fasilitas akordion tersebut, BBCA akan memberi dua fasilitas, sebesar US$ 75 juta dan Rp 2,88 triliun.

Baca Juga: Delta Dunia (DOID) Teken Fasilitas Pinjaman dengan BNI, BCA dan Bank Mandiri

Kemudian, PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 150 miliar pada 21 Februari 2025. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan rumah sakit milik perusahaan dan memperkuat likuiditas keuangan.

Emiten Group Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Tbk menandatangani perjanjian kredit senilai Rp 1 triliun dengan BBNI pada 6 Februari 2025. Fasilitas ini akan dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional serta pengembangan entitas anak usaha. 

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), melalui anak usahanya PT Mitra Belanja Anda, juga memperoleh perpanjangan dan tambahan kredit dengan plafon akhir Rp 40 miliar. Pinjaman ini akan digunakan untuk belanja modal dalam rangka refinancing atau pembukaan serta renovasi gerai supermarket. 

Baca Juga: Emiten Ramai-ramai Tarik Pinjaman dari Bank, Cek Prospeknya ke Depan

Hartadinata Abadi (HRTA) belum lama ini mengamankan pinjaman Rp 400 miliar dari bank BRI yang akan digunakan untuk belanja modal, modal kerja, atau kebutuhan perusahaan secara umum. 

Tak ketinggalan, beberapa emiten lainnya yang turut memperoleh fasilitas kredit dari perbankan antara lain Bank Oke (DNAR) dengan pinjaman Rp 50 miliar, Perintis Triniti (TRIN) sebesar Rp 25 miliar, dan Buana Finance (BBLD) senilai Rp 250 miliar. 

Efek Pinjaman Bank ke Emiten

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, mengatakan dampak terhadap leverage emiten akan tergantung pada struktur modal mereka sebelum menerima pinjaman. 

Jika emiten memiliki Debt to Equity Ratio (DER) yang sudah tinggi sebelum memperoleh kredit, maka tambahan pinjaman ini berpotensi meningkatkan leverage mereka secara signifikan, yang bisa menjadi perhatian bagi investor. 

Namun, jika pinjaman tersebut diambil untuk ekspansi bisnis yang berpotensi meningkatkan revenue, maka leverage tambahan masih bisa diterima selama arus kas operasional mampu menopang pembayaran utang. 

"Emiten seperti DSSA dan HRTA relatif memiliki posisi keuangan yang lebih stabil, sementara TRIN dan DNAR perlu dicermati lebih lanjut terkait risiko leverage mereka," kata Ekky kepada Kontan, Rabu (26/2).

Baca Juga: Charlie Hospital (RSCH) Kantongi Pinjaman Rp 150 Miliar dari Bank Mandiri

Ekky juga menambahkan, dengan tambahan pinjaman, tentu saja beban utang emiten akan meningkat, terutama dari sisi biaya bunga yang harus dibayarkan. 

Apabila tingkat suku bunga masih tinggi, maka beban bunga juga akan menjadi lebih berat bagi perusahaan yang memiliki margin profit rendah. 

"Harusnya HRTA, ERAA dan DSSA masih memiliki fundamental yang cukup kuat untuk menanggung tambahan beban utang," tambah Ekky.

Sementara perusahaan yang lebih kecil seperti TRIN dan DNAR perlu dipantau lebih lanjut terkait pengelolaan kewajiban finansialnya.

Selain itu, pangsa pasar emiten juga berpotensi meningkat usai menarik pinjaman dana dari perbankan. Ekky mencontohkan, jika digunakan untuk ekspansi usaha seperti pengembangan jaringan ritel (ERAA), pembangunan infrastruktur (RSCH), atau diversifikasi bisnis (DSSA), maka ada potensi peningkatan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Selanjutnya: Hashim Beberkan Danantara Berpotensi Biayai Proyek-proyek Ini

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2025 Kota Jakarta Barat dan Sekitarnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×