Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali menawarkan instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN) ritel melalui Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015. Instrumen ini menawarkan kupon 6,75% per tahun untuk tenor dua tahun dan 6,85% per tahun untuk tenor empat tahun.
Chief Operating Officer (COO) Bareksa, Ni Putu Kurniasari menilai tingkat kupon yang ditawarkan SBR015 masih cukup menarik bagi investor ritel, terutama di tengah arah suku bunga yang masih berpotensi berubah.
Pemerintah akan membuka masa penawaran SBR015 mulai 28 September hingga 22 Oktober 2026. Untuk tenor dua tahun, pemerintah menetapkan kuota nasional sebesar Rp 15 triliun dengan minimum pembelian Rp 1 juta dan maksimum Rp 5 miliar.
Sementara itu, SBR015 tenor empat tahun memiliki kuota nasional Rp 5 triliun. Minimum pembelian ditetapkan Rp 1 juta, sedangkan maksimum pembelian mencapai Rp 10 miliar.
Baca Juga: Kerja Sama dengan Freeport Perkuat Pasokan, Ini Rekomendasi Saham Hartadinata (HRTA)
Ni Putu menyebut tingkat kupon SBR015 masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan seri SBR yang diterbitkan dalam tiga tahun terakhir. Namun, kupon SBR015 berpotensi berada di bawah tingkat imbal hasil Obligasi Negara Ritel (ORI) yang diterbitkan sebelumnya.
"Saya rasa kupon masih jadi yang tertinggi dibanding SBR dalam tiga tahun terakhir ini, tapi mungkin lebih rendah dari ORI kemarin ya, karena saya lihat yield SBN mulai stabil," ujar Ni Putu kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Kupon SBR015 Bersifat Floating with Floor
Menurut Ni Putu, salah satu daya tarik SBR015 terletak pada karakteristik kupon floating with floor. Dengan skema ini, tingkat kupon dapat meningkat apabila suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mengalami kenaikan.
Sebaliknya, apabila BI Rate mengalami penurunan, tingkat kupon SBR015 tidak akan turun di bawah batas minimum atau floor yang telah ditentukan.
"Karena ini SBR, di mana akan ada floating rate. Jadi jika nantinya BI Rate jadi meningkat, kupon yang diterima investor bisa di-adjust saat itu," katanya.
Saat ini, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,75%. Dengan karakteristik floating with floor tersebut, perubahan BI Rate menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi tingkat kupon SBR015 selama masa investasi.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi ke 6.241, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing di Akhir Pekan
Tenor Pendek SBN Ritel Lebih Diminati
Ni Putu mengatakan, berdasarkan pengalaman Bareksa, investor ritel cenderung lebih banyak memilih SBN dengan tenor yang lebih pendek.
"Untuk SBN ritel dalam pengalaman kami, tenor pendek biasanya lebih diminati, karena kebanyakan SBN digunakan untuk parkir jangka menengah yang dirasa aman, tapi berpotensi imbal hasil lebih dari deposito," jelasnya.
Minat investor terhadap SBN ritel juga tercermin dari penjualan Sukuk Ritel (SR) seri SR025. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 21 September 2026, penerbitan SR025 telah menghimpun dana sebesar Rp 29,77 triliun.
Realisasi tersebut terdiri dari SR025 tenor tiga tahun sebesar Rp 24,94 triliun dengan tingkat imbalan tetap 6,80%. Sementara itu, SR025 tenor lima tahun menghimpun Rp 4,83 triliun dengan tingkat imbalan 6,90%.
Ni Putu menilai capaian tersebut menunjukkan minat investor terhadap instrumen SBN ritel masih cukup kuat.
"SR025 kemarin masuk seri SR tertinggi kedua kalau saya tidak salah. Jadi karena SBR ini kuponnya masih di tren suku bunga naik, saya rasa minatnya masih tinggi," tuturnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun, Analis Ungkap Peluang Akumulasi
Jadwal Pembayaran Kupon SBR015
Sebagai informasi, kupon SBR015 akan dibayarkan setiap tanggal 10. Pembayaran kupon pertama dijadwalkan pada 10 Desember 2026 dan akan menjadi pembayaran long coupon.
Sementara itu, penetapan hasil penjualan SBR015 dijadwalkan pada 26 Oktober 2026. Setelah itu, setelmen penerbitan SBR015 akan dilakukan pada 28 Oktober 2026.
Tingkat kupon SBR015 juga lebih tinggi dibandingkan seri sebelumnya, yakni SBR014. Berdasarkan data DJPPR, SBR014 tenor dua tahun mencatatkan total pemesanan pembelian sebesar Rp 11,60 triliun dengan kupon 6,25%.
Adapun SBR014 tenor empat tahun mencatatkan total pemesanan pembelian Rp 3,32 triliun dengan tingkat kupon 6,35%.
Setelah penerbitan SBR015, pemerintah masih memiliki satu seri SBN ritel yang akan ditawarkan pada akhir 2026.
Berdasarkan jadwal DJPPR Kementerian Keuangan, pemerintah akan menawarkan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














