Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) di sepanjang 2026 ini, turut menghantam saham-saham emiten telekomunikasi dan penyedia infrastrukturnya. Hampir semua saham sudah amblas hingga dua digit.
Dari sektor telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) parkir di level Rp 2.230 per saham pada akhir perdagangan Kamis (15/10). Sepanjang 2026 berjalan ini, saham emiten pelat merah ini sudah ambles 35,92%.
Saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) juga turun 43,20% sepanjang tahun berjalan ini. Sementara saham PT Indosat Tbk (ISAT) sudah melemah 11,21% secara year to date (ytd).
Bergeser ke sektor infrastruktur telekomunikasi, ada saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel yang merosot 36% sepanjang 2026 ini ke posisi Rp 448 per saham pada Kamis (15/10).
Baca Juga: Kinerja Saham Bervaluasi Murah Berpeluang Pulih, Cermati Rekomendasi Analis
Tekanan juga terjadi pada saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang masing-masing melemah 49,81% dan 23,42% secara tahun berjalan.
Koreksi juga terjadi di saham pemegang lelang pita frekuensi 1,4 GHz untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA), yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang turun 60,31% dan PT Ekasmas Mora Republik Tbk (MORA) minus 61,91%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai penurunan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen makroekonomi, tekanan daya beli masyarakat dan persaingan harga layanan data yang semakin ketat.
Secara rinci, dia menjelaskan operator telekomunikasi tengah menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan average revenue per user (ARPU) hingga mengoptimalkan belanja modal di tengah persaingan.
“Sementara emiten menara menghadapi tantangan berupa konsolidasi operator, efisiensi jaringan, serta kebutuhan menjaga tingkat penyewaan dan utilisasi aset,” jelas Nafan kepada Kontan, Kamis (15/10).
Baca Juga: Prospek Saham Kompas100 pada Agustus 2026, Ini Rekomendasi Analis
Meski begitu, Nafan melihat pengembangan FWA 5G berpotensi menjadi katalis positif bagi ekosistem infrastruktur telekomunikasi, terutama melalui perluasan akses internet rumah dan peningkatan kebutuhan konektivitas.
“FWA berpotensi lebih langsung dirasakan WIFI, sedangkan INET dapat diuntungkan apabila ekspansi jaringan fiber menghasilkan pertumbuhan kontrak dan pendapatan,” katanya.
Di sisi lain, Equity Research Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus & Belva Monica memperkirakan kinerja kuartal III-2026 sektor telekomunikasi relatif positif dengan ARPU berpotensi stabil hingga sedikit meningkat secara kuartalan.
Aurelia dan Belva memperkirakan EBITDA gabungan sektor telekomunikasi selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 94,2 triliun, tumbuh 8% secara tahunan.
Adapun penurunan EBITDA kuartalan terutama dipicu pembebanan biaya spektrum 5G mulai kuartal III-2026. Mereka memperkirakan kinerja EXCL berpotensi melampaui estimasi, sedangkan ISAT dan TLKM diperkirakan sesuai ekspektasi.
Untuk EXCL, Indo Premier memperkirakan EBITDA kuartal III-2026 mencapai Rp 5,5 triliun, turun 1% secara kuartalan. EBITDA sembilan bulan pertama diproyeksikan Rp 16,5 triliun atau tumbuh 21% secara tahunan.
Sementara itu, EBITDA ISAT pada kuartal III-2026 diperkirakan Rp 7,1 triliun, turun 3% secara kuartalan. EBITDA sembilan bulan pertama diproyeksikan mencapai Rp 21,7 triliun, tumbuh 12% secara tahunan.
Untuk TLKM, Indo Premier memperkirakan EBITDA kuartal III-2026 turun 5% secara kuartalan menjadi Rp 18,5 triliun, tetapi masih tumbuh 1% secara tahunan.
“Sektor telekomunikasi diperdagangkan pada valuasi 4,1 kali EV/EBITDA berdasarkan estimasi 12 bulan ke depan, atau dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya,” tulis Aurelia dan Belva dalam riset tertanggal 9 Oktober 2026.
Baca Juga: Prospek Emiten Alat Berat Berpeluang Membaik di 2027, Cek Saham Rekomendasi Analis
Secara keseluruhan, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor telekomunikasi dengan urutan saham pilihan ada di EXCL, ISAT dan TLKM.
Sementara, Nafan merekomendasikan buy on weakness untuk WIFI dengan area masuk Rp 1.250–Rp 1.425. Dia juga merekomendasikan akumulasi beli saham ISAT dengan target harga Rp 2.700 serta TLKM dengan target Rp 2.880.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














