kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Saham-Saham Produsen Emas Menarik Dilirik, Cek Rekomendasinya Senin (13/4)


Senin, 13 April 2026 / 05:20 WIB
Saham-Saham Produsen Emas Menarik Dilirik, Cek Rekomendasinya Senin (13/4)
ILUSTRASI. Saat harga emas global stagnan, saham produsen emas kompak melesat! Analis bocorkan emiten pilihan untuk potensi cuan besar. (REUTERS/Hiba Kola)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski harga emas global masih cenderung melandai di tengah berlangsungnya konflik geopolitik di Timur Tengah, saham-saham emiten produsen emas justru menunjukkan tren penguatan dalam sepekan terakhir.

Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pasar mulai mengantisipasi prospek jangka menengah sektor emas, bukan hanya berfokus pada harga spot saat ini.

Saham Produsen Emas Kompak Menguat

Mayoritas saham produsen emas tercatat mengalami pemulihan signifikan dalam sepekan terakhir. Salah satu yang mencatat kenaikan paling tajam adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk yang menguat 15,43% ke level Rp 5.425 per saham hingga Jumat (10/4).

Pada periode yang sama, PT Bumi Resources Minerals Tbk juga melonjak 14,97% ke level Rp 845 per saham. Sementara itu, PT Archi Indonesia Tbk turut mencatat penguatan 10,25% ke level Rp 1.560 per saham.

Selain itu, PT Aneka Tambang Tbk naik 1,92% dalam sepekan ke level Rp 3.710 per saham. Adapun PT J Resources Asia Pasifik Tbk cenderung stagnan di level Rp 510 per saham meski sempat bergerak volatil.

Baca Juga: Menilik Nasib Pasar Saham Pasca BEI Delisting 18 Emiten

Di sisi lain, beberapa emiten justru mengalami koreksi. PT Merdeka Copper Gold Tbk terkoreksi 1,23% ke level Rp 3.220 per saham. Begitu pula dengan PT Merdeka Gold Resources Tbk yang melemah 0,91% ke level Rp 8.125 per saham.

Ekspektasi The Fed dan Geopolitik Jadi Pendorong

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai penguatan saham-saham produsen emas lebih banyak didorong oleh ekspektasi masa depan (forward looking), bukan semata-mata pergerakan harga emas spot.

Menurutnya, meski harga emas relatif stagnan di kisaran US$ 4.700 per ons troi, pasar mulai melakukan pricing in terhadap potensi penurunan suku bunga global, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya risiko geopolitik yang kembali menguatkan fungsi emas sebagai aset safe haven.

Selain itu, faktor spesifik emiten juga berperan penting, seperti optimisme ekspansi produksi pada AMMN dan BRMS, efisiensi biaya, serta prospek margin yang lebih baik jika harga energi stabil.

"Kenaikan saham ini belum tentu mencerminkan rebound harga emas jangka pendek, tetapi lebih ke ekspektasi siklus emas yang bisa kembali bullish dalam jangka menengah," ujar dia, Jumat (10/4).

Valuasi Saham: Mana yang Masih Menarik?

Dari sisi valuasi, Arinda menyebut beberapa saham seperti ANTM dan MDKA sudah berada pada level fair hingga premium, tercermin dari rasio price to book value (PBV) dan enterprise value (EV)-EBITDA yang di atas rata-rata historis.

Sebaliknya, saham lapis kedua seperti BRMS dan ARCI dinilai masih undervalued karena berada dalam fase pertumbuhan awal serta optimalisasi cadangan emas.

Prospek Jangka Panjang Masih Positif

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai sebagian saham emas masih memiliki daya tarik, terutama yang belum sepenuhnya mencerminkan potensi produksi masa depan.

Baca Juga: Harga Minyak Berpotensi Naik, Ini Rekomendasi Saham Energi Pilihan Analis

Namun demikian, investor diminta lebih selektif terhadap saham yang sudah mengalami rally signifikan karena valuasinya mulai mendekati nilai wajar.

Secara umum, prospek emiten emas tetap menarik di tengah arah kebijakan moneter global yang cenderung lebih longgar dan potensi pelemahan dolar AS.

Dalam kondisi tersebut, emas secara historis cenderung menguat karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah. Selain itu, risiko geopolitik yang masih tinggi juga menjadi faktor pendukung harga emas jangka menengah hingga panjang.

Tantangan Industri Emas Masih Ada

Meski prospeknya positif, sektor emas tetap menghadapi sejumlah tantangan seperti kenaikan biaya produksi, fluktuasi harga energi, serta risiko operasional dan regulasi.

"Emiten yang memiliki cadangan besar, biaya produksi efisien, dan ekspansi yang jelas akan lebih unggul dibandingkan yang hanya mengandalkan harga komoditas," ungkap dia, Jumat (10/4).

Strategi Emiten untuk Bertahan di Siklus Komoditas

Untuk menjaga kinerja optimal, emiten emas perlu memperkuat efisiensi biaya produksi agar tetap kompetitif di tengah volatilitas harga komoditas.

Selain itu, percepatan pengembangan proyek baru untuk meningkatkan volume produksi menjadi krusial, disertai dengan pengelolaan struktur keuangan yang sehat di tengah kebutuhan belanja modal (capex) yang besar.

Diversifikasi bisnis ke mineral lain seperti tembaga juga dinilai penting sebagai buffer ketika harga emas terkoreksi.

Arinda menambahkan, emiten juga perlu disiplin dalam pengendalian biaya, mempercepat eksplorasi cadangan baru, serta mengoptimalkan portofolio aset, termasuk divestasi aset non-inti atau tambang berbiaya tinggi.

"Manajemen keuangan yang konservatif dengan leverage rendah dan likuiditas kuat menjadi penting untuk menjaga fleksibilitas saat siklus komoditas berbalik," imbuh Arinda.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Migas untuk Perdagangan Senin (13/4)

Rekomendasi Saham Emiten Emas

Arinda merekomendasikan investor untuk mempertimbangkan saham ANTM dan MDKA dengan target harga masing-masing di Rp 4.800 dan Rp 3.700 per saham.

Sementara itu, Hendra menilai saham sektor emas masih menarik sebagai strategi defensif sekaligus trading taktis di tengah volatilitas pasar global.

Rekomendasi speculative buy diberikan untuk:

  • ANTM dengan target Rp 4.000

  • BRMS dengan target Rp 965

  • ARCI dengan target Rp 1.770

  • EMAS dengan target Rp 9.000

  • AMMN dengan target Rp 6.075

  • MDKA dengan target Rp 3.540

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×