Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama reli harga minyak global. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi saham emiten minyak dan gas (migas) yang berpotensi mencatatkan kinerja lebih solid seiring kenaikan harga komoditas energi.
Dengan kondisi saat ini, analis memberikan rekomendasi saham sektor migas yang dinilai masih menarik untuk dicermati investor. Berikut ulasan rekomendasi saham sektor migas untuk perdagangan Senin (13/4/2026):
1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Produksi MEDC pada 2026 diperkirakan mencapai 165.000–170.000 barel per hari, tumbuh sekitar 5,7%–8,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja perusahaan juga diproyeksikan meningkat jika harga minyak bertahan di level tinggi.
Dari sisi fundamental, MEDC diperdagangkan dengan price to earnings ratio (P/E) sebesar 9,3 kali pada 2026 dan diproyeksikan menurun menjadi 8,6 kali pada 2027. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi peningkatan laba dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, rasio price to book value (P/BV) berada di kisaran 1,0 kali pada 2026 dan turun menjadi 0,9 kali pada 2027.
Rekomendasi: Buy
Target Harga: Rp 2.000
Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, BRI Danareksa Sekuritas
Baca Juga: Negosiasi AS – Iran Gagal, Begini Prospek Harga Emas Sepekan ke Depan
2. PT Elnusa Tbk (ELSA)
Pendapatan ELSA tumbuh 8,29% year on year (yoy) menjadi Rp 14,50 triliun pada tahun 2025, sedangkan laba bersih naik 0,66% yoy menjadi Rp 718,41 miliar.
Pada tahun ini ELSA memiliki target untuk meningkatkan kegiatan operasi migas lebih efisien sebesar 15% hingga 25% sebagai respons peningkatan volatilitas harga minyak dunia serta dukungan target produksi nasional pemerintah sebesar 1 juta barel per hari. Selain itu, ELSA juga memanfaatkan teknologi secara adaptif dan penguatan pola pikir inovatif.
Sektor jasa penunjang migas, ELSA, diuntungkan secara tidak langsung melalui peningkatan volume kontrak seiring naiknya capex eksplorasi serta prospek kinerja ke depan didorong oleh percepatan eksekusi proyek dan peningkatan utilisasi aset.
Rekomendasi: Buy
Target Harga: Rp 900
Muhammad Wafi, Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI)
3. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
ENRG melalui anak perusahaannya mengumumkan penemuan minyak baru di area kerja Selat Malaka pada tanggal 26 Januari 2026. Temuan tersebut diperkirakan mengandung cadangan minyak di bawah tanah sekitar 31 juta barel dengan potensi produksi tambahan 1.000–1.500 barel per hari, di samping potensi eksplorasi lebih lanjut yang melebihi 76 juta barel.
Melansir laporan keuangan, ENRG mencatat pendapatan sebesar US$ 498 juta atau sekitar Rp 8,51 triliun pada tahun 2025, naik 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih ENRG tumbuh 21% dibanding tahun lalu menjadi US$ 91,5 juta atau sekitar Rp 1,46 triliun.
Nilai wajar saat ini menerapkan rasio P/E sebesar 27,19 kali pada 2026 dan diproyeksikan menurun menjadi 25,26 kali pada 2027 serta P/BV sebesar 3,44 kali pada 2026 lalu diperkirakan menurun menjadi 3,06 kali pada 2027.
Meskipun valuasi saat ini berada di atas rata-rata historis 5 tahun, ENRG masih diperdagangkan di bawah perusahaan sejenis yang mengindikasikan potensi peningkatan peringkat lebih lanjut yang didukung oleh fundamental yang membaik.
Rekomendasi: Buy
Target Harga: Rp 2.100
Sukarno Alatas, Kiwoom Sekuritas Indonesia
Baca Juga: Peluang Cuan Dividen Masih Terbuka, Analis Soroti Beberapa Saham Berikut
4. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)
Berdasarkan laporan keuangan, RATU melaporkan pendapatan sebesar US$ 49,3 juta atau setara Rp 842 miliar, turun 14,6% dibandingkan tahun sebelumnya (YoY). Meskipun pendapatan tertekan, laba bersih justru meningkat sekitar 10,1% YoY menjadi US$ 15,3 juta, didukung oleh penurunan beban bunga sebesar US$ 1,41 juta.
RATU berhasil mendapatkan peluang besar untuk berkembang setelah sukses mengakuisisi saham SMSDL. Melalui akuisisi ini, RATU kini memiliki kepemilikan tidak langsung sebesar 20% di HCML, yaitu blok gas terbesar di Jawa Timur.
Valuasi ini didasarkan pada pendekatan Discounted Cash Flow (DCF) menggunakan Weighted Average Cost of Capital (WACC) 7,5% dan pertumbuhan terminal 5,0%. Target ini juga mencakup alpha 27,8% relatif terhadap benchmark.
Valuasi ini mencerminkan proyeksi terhadap blok Madura dan strategi efisiensi biaya yang berkelanjutan ke depan, sambil mencatat risiko penurunan dari volume minyak dan gas yang lebih rendah dari perkiraan, penurunan peringkat Indonesia oleh MSCI menjadi pasar perbatasan dan/atau pengurangan bobot saham Indonesia.
Rekomendasi: Buy
Target Harga: Rp 7.800
Dennis Tay dan Tristan Elfan ZR, Henan Putihrai Sekuritas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













