Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah dalam sebulan terakhir mulai berdampak nyata terhadap pasokan minyak global. Gangguan pasokan diperkirakan mencapai 8 juta hingga 11 juta barel per hari (mbpd) atau setara dengan 9%–11% dari total permintaan dunia.
Kondisi ini membuka peluang bagi saham-saham sektor energi untuk menguat, meski risiko volatilitas harga minyak masih membayangi.
Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai saham energi seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menarik untuk dicermati seiring potensi kenaikan harga minyak.
ENRG mencatat pendapatan sebesar US$ 498 juta atau sekitar Rp 8,51 triliun pada tahun 2025, naik 7% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini ditopang kontribusi kuat dari aset Sengkang, Siak, Kampar, dan Bentu yang mampu mengimbangi kinerja yang lebih lemah dari Selat Malaka dan Kangean.
Kinerja tersebut turut tercermin pada laba bersih yang meningkat 21% YoY menjadi US$ 91,5 juta atau sekitar Rp 1,46 triliun. Peningkatan ini didukung kontribusi aset yang lebih solid serta efisiensi biaya, meskipun harga minyak dan gas relatif lebih rendah.
Baca Juga: Gangguan Timur Tengah Pangkas Pasokan Minyak, Saham Energi Masih Prospektif
Sukarno memperkirakan kenaikan harga migas dan target peningkatan volume produksi sekitar 10% akan mendorong pendapatan ENRG pada 2026 tumbuh 19% YoY menjadi sekitar US$ 592 juta.
Selain itu, katalis tambahan datang dari penemuan cadangan minyak baru oleh anak usaha ENRG di wilayah kerja Selat Malaka pada 26 Januari 2026.
Temuan tersebut diperkirakan memiliki cadangan sekitar 31 juta barel dengan potensi tambahan produksi 1.000–1.500 barel per hari dari pengembangan struktur MSTB-NW.
"Atas dasar tersebut, kami merekomendasikan buy untuk ENRG dengan target harga Rp 2.100 per saham," tulis Sukarno dalam risetnya tertanggal 11 April 2026.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey melihat PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menarik untuk dicermati dalam jangka pendek, khususnya tiga bulan ke depan.
MEDC membukukan pendapatan sebesar US$ 2,40 miliar pada 2025, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, laba bersih tercatat turun 72,48% YoY menjadi US$ 101 juta, dari sebelumnya US$ 367 juta.
Ke depan, Andhika memproyeksikan produksi MEDC pada 2026 tumbuh sekitar 5,7%–8,9% menjadi 165.000–170.000 barel per hari. Kinerja emiten ini dinilai akan sangat diuntungkan apabila harga minyak terus mengalami kenaikan.
Ia pun merekomendasikan buy untuk MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Baca Juga: IHSG Melemah, Analis Sarankan Investor Lirik Saham Energi dan Emas
Dari sisi lain, Analis Henan Putihrai Sekuritas, Dennis Tay merekomendasikan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) untuk dicermati.
Pada 2025, RATU membukukan pendapatan sebesar US$ 49,3 juta atau turun 14,6% YoY. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya produksi di Blok Jabung menjadi 50.000 barel per hari dari target 52.000 barel per hari serta penurunan harga minyak dan gas.
Meski demikian, laba bersih RATU justru meningkat 10,1% YoY menjadi US$ 15,3 juta.
Menurut Dennis, katalis utama pertumbuhan RATU pada 2026 berasal dari akuisisi saham SMSDL yang memberikan kepemilikan tidak langsung sebesar 20% di HCML, salah satu blok gas terbesar di Jawa Timur.
“Kami memperkirakan kepemilikan ini akan memberikan kontribusi sekitar US$ 21 juta terhadap pendapatan afiliasi pada 2026, sehingga mendorong laba bersih naik 66,8% YoY menjadi US$ 25,5 juta,” tulisnya dalam riset tertanggal 6 April 2026.
Selain itu, EBITDA yang disesuaikan diproyeksikan meningkat 74,1% YoY menjadi US$ 53,1 juta.
Dennis pun merekomendasikan buy untuk RATU dengan target harga Rp 7.800 per saham.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Tiga Saham Energi Ini Berpotensi Diuntungkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













