Reporter: Dimas Andi, Nur Qolbi, Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
Per akhir Maret 2026, total kepemilikan ETF di pasar saham Indonesia mencapai Rp 116,9 triliun, dengan sekitar 94% dikuasai investor asing.
Dari jumlah tersebut, DSSA menempati peringkat 10 saham dengan kepemilikan ETF asing senilai Rp 2,5 triliun, sedangkan BREN di posisi 13 sebesar Rp 1,8 triliun.
Artinya, total dana ETF yang berpotensi keluar dari dua saham ini mencapai sekitar Rp 4,3 triliun. Dengan dominasi investor asing, potensi outflow saat rebalancing indeks MSCI dan FTSE pada Mei–Juni 2026 diperkirakan bisa melampaui Rp 4 triliun.
Baca Juga: Dian Swastatika (DSSA) Gencar Diversifikasi Bisnis, Cermati Rekomendasi Analis
Meski demikian, Rudiyanto menilai dampak rebalancing biasanya bersifat jangka pendek. “Efeknya umumnya hanya beberapa hari sebelum tanggal efektif. Setelah itu kembali normal, tergantung besar kecilnya dana yang dilepas,” jelasnya.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menegaskan hanya reksadana indeks (passive fund) yang wajib menjual saham yang dikeluarkan dari indeks. Sementara itu, investor aktif masih memiliki fleksibilitas.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research KISI, Muhammad Wafi. Ia menilai tidak semua investor asing akan melepas saham BREN dan DSSA. "Active fund yang berorientasi fundamental jangka panjang kemungkinan tetap bertahan," ujarnya.
Di tengah tekanan ini, analis menyarankan investor tidak bereaksi berlebihan. Liza menekankan pentingnya tetap selektif, terutama terhadap saham dengan risiko HSC atau free float rendah.
Baca Juga: Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi
Ia menyarankan investor mengalihkan fokus ke saham dengan likuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental kuat. Peluang masuk kembali ke saham MSCI dinilai akan lebih optimal setelah ada kejelasan hasil review mendatang.
“Tidak perlu panic selling, tapi tetap disiplin memilih saham,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













