Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis sembilan saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi hingga Maret 2026. Kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi investor, terutama terkait potensi tekanan harga dan likuiditas.
Saham-saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi tersebut adalah
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY)
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK).
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Baca Juga: Rupiah dan Harga Minyak Uji IHSG, Cermati Rekomendasi Saham IPOT
Saham-saham tersebut dikuasai satu pihak dengan kepemilikan hingga mencapai 95%, atau lebih.
Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan adanya kemungkinan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi yang telah masuk indeks global akan mengalami penurunan bobot atau bahkan dikeluarkan.
“Bisa saja terjadi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks global akibat analisis granularity maupun high shareholding concentration (HSC),” ujarnya.
Meski demikian, Jeffrey optimistis dampak jangka panjang akan positif bagi pasar modal Indonesia. Transparansi ini dinilai dapat meningkatkan kualitas pasar dan kepercayaan investor.
“Pasar bersifat forward looking. Jika dinilai baik dalam jangka panjang, respons pasar bisa tetap positif,” tambahnya.
Berdasarkan catatan IPO Platinum Club, saham yang sudah masuk indeks MSCI dan tergolong dalam kategori HSC berpotensi dikeluarkan dan tidak dapat kembali dalam waktu 12 bulan.
Selain itu, saham baru dengan status kepemilikan terkonsentrasi tinggi juga dipastikan tidak memenuhi syarat untuk masuk indeks MSCI.
Tonton: Panglima TNI Perintahkan Prajurit di Lebanon Tetap di Bunker Usai Gugurnya Tiga Rekan
Rekomendasi Saham
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai publikasi daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi merupakan langkah positif. Informasi ini bisa menjadi sinyal awal bagi investor dalam menentukan strategi investasi.
“Ada potensi kesembilan saham tersebut terkoreksi. Namun dengan tingkat kepemilikan yang tinggi, penurunan harga cenderung lebih terbatas,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai saham dengan fundamental kuat tetap memiliki daya tahan. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati aspek teknikal dan potensi risiko penurunan harga.
Menurut Nafan, status kepemilikan yang terkonsentrasi juga berpotensi meredam sentimen positif, termasuk aksi korporasi seperti stock split yang biasanya meningkatkan likuiditas.
Secara teknikal, Nafan melihat beberapa saham dalam daftar tersebut masih berada dalam tren turun atau fase konsolidasi. Oleh karena itu, investor disarankan lebih selektif dan berhati-hati.
Ia merekomendasikan hold untuk saham DSSA dengan target harga Rp 72.800. Selain itu, saham BREN dan RLCO juga direkomendasikan hold dengan target masing-masing Rp 4.640 dan Rp 5.050 per saham.
Sementara itu, Hans Kwee menyarankan investor yang telah memiliki saham dalam kategori ini dapat mempertimbangkan aksi jual saat kondisi pasar saham Indonesia lebih stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













