kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Rupiah Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan The Fed, Cek Proyeksinya Kamis (19/2)


Rabu, 18 Februari 2026 / 16:13 WIB
Rupiah Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan The Fed, Cek Proyeksinya Kamis (19/2)
ILUSTRASI. Rupiah melemah 0,15 persen terhadap Dolar AS (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA) Pelemahan rupiah dipicu defisit APBN dan risalah The Fed. Apakah rupiah akan terus tertekan? Cek kisaran harga dan faktor pendorongnya di sini.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekhawatiran atas kondisi fiskal dalam negeri serta sikap wait and see investor menjelang rilis risalah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) membuat mata uang Garuda bergerak di zona merah pada akhir perdagangan hari ini.

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada penutupan perdagangan Rabu (18/2/2026). Rupiah ditutup melemah 0,28% di level Rp 16.884 per dollar AS. 

Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Rupiah ditutup pada level Rp 16.884 per dolar AS pada Rabu (18/2/2026), melemah 0,24% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.844 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan eksternal.

Baca Juga: Rupiah Melemah Menjadi Rp 16.884, Pasar Tunggu RDG BI dan Risalah The Fed

Dari dalam negeri, kondisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah menjadi sorotan publik. Menurut Ibrahim, jika pemerintah tidak cermat dalam mengelola keuangan negara, ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural.

“Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja,” ujar Ibrahim, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, ketika sektor swasta masih berhati-hati melakukan ekspansi, pemerintah pada akhirnya menjadi penopang utama permintaan agregat. Di sisi lain, kondisi ini memunculkan risiko apabila APBN terus berperan sebagai shock absorber, sementara basis penerimaan negara belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan biaya bunga.

Dari eksternal, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan moneter Januari oleh Federal Reserve. Risalah tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk tambahan terkait waktu dan skala potensi pelonggaran moneter di AS.

Selain itu, investor juga menantikan laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat untuk bulan Desember yang akan dirilis Jumat. Data tersebut merupakan indikator inflasi pilihan The Fed yang dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga ke depan.

Untuk perdagangan Kamis (19/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.880 - Rp 16.920 per dolar AS.

Baca Juga: Modern International (MDRN) Gandeng Dirgantara Indonesia dan Genertec

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×