kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Rupiah Tertekan Akhir Agustus 2026, Ini Sentimen yang Perlu Dicermati


Senin, 31 Agustus 2026 / 16:17 WIB
Rupiah Tertekan Akhir Agustus 2026, Ini Sentimen yang Perlu Dicermati
ILUSTRASI. Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan terakhir Agustus 2026. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan terakhir Agustus 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ditambah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak mentah dunia, menjadi sentimen yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Melansir data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.722 per dolar AS pada Senin (31/8/2026). Rupiah melemah 0,15% dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di level Rp 17.693 per dolar AS.

Senada, rupiah pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 17.746 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,24% dibandingkan sesi sebelumnya sebesar Rp 17.703 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah terjadi seiring dolar AS yang menguat setelah munculnya pernyataan hawkish dari Kepala The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh.

Baca Juga: Investasi SR025 Tak Sekedar Kejar Kupon, Basis Investor Syariah Jadi Andalan

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh pidato hawkish Kepala The Fed Warsh. Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik ikut membebani," ujar Lukman kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Menurut Lukman, sentimen eksternal tersebut menjadi beban bagi rupiah di awal pekan, setelah mata uang Garuda sebelumnya mampu menguat pada perdagangan akhir pekan lalu.

Kenaikan harga minyak mentah juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan, terutama di tengah kebutuhan impor energi.

Memasuki perdagangan Selasa (1/9/2026), perhatian investor akan beralih ke sejumlah data ekonomi domestik. Lukman mengatakan, pelaku pasar akan mengantisipasi rilis data perdagangan dan inflasi Indonesia.

Baca Juga: Saratoga Investama (SRTG) Catat Rugi Bersih Rp 3,87 Triliun per Juni 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Agustus 2026 pada Selasa, 1 September 2026.

Data tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fundamental ekonomi domestik sekaligus arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Dengan begitu ia memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa (1/9) akan bergerak dalam rentang Rp 17.650-Rp 17.800 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×