Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor ritel terhadap Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ritel seri SR025 diperkirakan tetap positif meski tingkat kupon yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan SBN ritel seri sebelumnya, ORI030.
Investment Specialist Makmur, Lia Andani, mengatakan SR025 memiliki daya tarik tersendiri karena menyasar basis investor yang mengutamakan instrumen investasi berbasis syariah.
Sebagai informasi, SR025 menawarkan kupon tetap sebesar 6,80% per tahun untuk tenor tiga tahun dan 6,90% per tahun untuk tenor lima tahun. Sementara itu, ORI030 yang ditawarkan sebelumnya memberikan kupon 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun.
Baca Juga: Saratoga Investama (SRTG) Catat Rugi Bersih Rp 3,87 Triliun per Juni 2026
Pada awal penawaran, SR025 memiliki total kuota nasional sebesar Rp 20 triliun yang terbagi atas kuota Rp 15 triliun untuk SR025-T3 dan Rp 5 triliun untuk SR025-T5, ditawarkan mulai Jumat 21 Agustus 2026.
Setelah sepekan penawaran, pada Senin (31/8) pukul 15.30 WIB, sisa kuota nasional SR025 tenor tiga tahun (SR025T3) tercatat sebesar 71,33% atau sekitar Rp 10,69 triliun. Sementara itu, sisa kuota SR025 tenor lima tahun (SR025T5) tercatat sebesar 78,06% atau sekitar Rp 3,90 triliun.
"BI Rate yang ditahan di 5,75% membuat instrumen kupon tetap seperti SR025 tetap kompetitif dibanding bunga deposito," ujar Lia kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, sukuk ritel juga memiliki basis investor tersendiri dari kalangan yang mengutamakan instrumen syariah. Dengan demikian, permintaan terhadap SR025 cenderung memiliki karakteristik yang berbeda dari instrumen SBN ritel konvensional.
Lia bilang, lebih rendahnya kupon SR025 dibandingkan ORI030 tidak serta-merta membuat instrumen tersebut kehilangan daya tarik. Menurutnya, penurunan kupon dari ORI030 ke SR025 lebih mencerminkan penyesuaian terhadap kondisi yield SBN acuan yang relatif stabil belakangan ini.
"Investor ritel biasanya membandingkan kupon SBN terhadap alternatif instrumen konservatif lain seperti deposito, bukan semata-mata terhadap seri SBN sebelumnya," jelasnya.
Dari sisi imbal hasil bersih, SR025 juga masih kompetitif. Sebab, kupon SBN ritel dikenakan pajak final sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan bunga deposito yang dikenakan pajak final 20%.
Baca Juga: Rupiah Lesu ke Rp 17.722 di Akhir Agustus, Tertekan Ekspektasi Bunga The Fed
Dengan demikian, meski kupon SR025 lebih rendah dibandingkan ORI030, selisih pajak tersebut membuat imbal hasil bersih yang diterima investor tetap menarik.
Kendati prospek permintaan SR025 diperkirakan akan positif, Lia memperkirakan penjualannya masih berpotensi berada di bawah pencapaian ORI030.
Sebagai gambaran, ORI030 mencatatkan penjualan hingga Rp 40 triliun dengan lebih dari 102.000 investor setelah kuotanya dinaikkan tiga kali dari alokasi awal Rp 20 triliun.
"SR025 berpotensi tetap menarik, tetapi kemungkinan besar masih di bawah capaian ORI030 karena basis investor sukuk ritel cenderung lebih terbatas dibandingkan ORI," katanya.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang dapat menentukan seberapa besar serapan SR025 selama masa penawaran.
Pertama, arah kebijakan suku bunga ke depan. Jika terdapat sinyal pelonggaran suku bunga, instrumen dengan kupon tetap seperti SR025 akan semakin menarik dibandingkan produk simpanan.
Kedua, pertumbuhan literasi dan basis investor syariah. Semakin besar jumlah investor yang memahami instrumen investasi syariah, semakin luas pula potensi pasar SR025.
Ketiga, kondisi pasar keuangan domestik selama periode penawaran. Lia menyebut momentum pasar saat ini cukup kondusif, salah satunya didukung oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang mulai menguat.
Baca Juga: Laba Jasa Marga (JSMR) Turun Kala Pendapatan Naik per Semester I 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














