kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.406.000   2.000   0,14%
  • USD/IDR 16.249
  • IDX 7.275   -38,68   -0,53%
  • KOMPAS100 1.138   -7,91   -0,69%
  • LQ45 918   -5,24   -0,57%
  • ISSI 218   -0,56   -0,25%
  • IDX30 457   -3,62   -0,79%
  • IDXHIDIV20 549   -4,11   -0,74%
  • IDX80 128   -0,64   -0,49%
  • IDXV30 130   -0,34   -0,26%
  • IDXQ30 154   -1,24   -0,80%

Rupiah tak akan tembus Rp 14.000 per dollar, ini penyokongnya


Kamis, 01 Maret 2018 / 21:25 WIB
Rupiah tak akan tembus Rp 14.000 per dollar, ini penyokongnya
ILUSTRASI. Uang rupiah


Reporter: Grace Olivia | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada perdagangan Kamis (1/3), posisi nilai tukar rupiah sempat terseret hingga menyentuh Rp 13.800 per dollar AS. Namun, mata uang Garuda akhirnya berhasil ditutup menguat tipis 0,02% ke posisi Rp 13.748 per dollar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, muncul kekhawatiran rupiah berpotensi terus tertekan hingga melampaui level Rp 14.000 per dollar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede sepakat rupiah memang masih dalam tren melemah. Sebab, sentimen eksternal dari AS terkait arah kebijakan The Federal Reserves masih begitu kuat dan mendorong laju dollar AS semakin kencang.

Selain pernyataan Gubernur The Fed Jeremy Powell yang kedua pada Kamis malam, pasar juga menanti data bulanan personal consumption expenditures (PCE) dan data klaim pengangguran AS yang akan dirilis malam ini.

"Kalau kedua data lebih baik dari ekspektasi, peluang rupiah tertekan akan semakin besar, besok," ujar Josua.

Meski begitu, Josua melihat pelemahan rupiah tidak akan berlangsung dalam jangka panjang. Menurutnya, saat ini pasar hanya sedang bersikap reaktif menjelang realisasi kenaikan suku bunga acuan. Seperti yang selama ini diperkirakan, Bank Sentral AS berencana mengerek suku bunga saat pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 21 Maret nanti.

Menurutnya, kurva yield US Treasury saat ini cenderung semakin melandai. Ini menunjukkan, yield obligasi bertenor jangka pendek naik lebih cepat dibandingkan dengan yang bertenor jangka panjang. Artinya, pasar memang sedang mengharapkan suku bunga akan naik dalam waktu dekat, tetapi di sisi lain masih meragukan ekspektasi perekonomian jangka panjang. "Pasar kelihatannya tidak begitu yakin inflasi mampu mencapai target 2% setelah suku bunga acuan naik nanti," papar Josua.

Selain itu, penguatan dollar AS belakangan juga disebabkan oleh terbatasnya penguatan pada major currencies lainnya. Misal, saat ini mata uang euro dan poundsterling cenderung tertekan akibat sentimen alotnya negoisasi kedua negara terkait persoalan Brexit. Hal ini membuat dollar AS semakin terpacu menguat di hadapan hampir seluruh mata uang dunia lainnya.

Meski begitu, Josua menilai, ruang pelemahan dollar AS masih terbuka pasca naiknya suku bunga acuan The Fed nanti. Ia pun yakin rupiah tidak akan melemah ke posisi yang dikhawatirkan, yaitu Rp 14.000 per dollar AS.

Menurutnya, tekanan akan mereda seiring dengan kebijakan intervensi Bank Indonesia yang menopang rupiah kembali pada nilai fundamentalnya. Josua optimistis hingga akhir tahun ini, rupiah mampu bertahan di level Rp 13.600 per dollar AS.

Besok (2/3), kata Josua, tak menutup kemungkinan rupiah masih sanggup melanjutkan penguatan. Terutama, jika pidato kedua Powell lebih dovish dari sebelumnya. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 13.700-Rp 13.800 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[ntensive Boothcamp] Business Intelligent with Ms Excel Pre-IPO : Explained

[X]
×