kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Rupiah Rawan ke 18.000 per Dolar AS, Intervensi BI Harus Dibarengi Dorongan Ekspor


Minggu, 11 Oktober 2026 / 13:30 WIB
Rupiah Rawan ke 18.000 per Dolar AS, Intervensi BI Harus Dibarengi Dorongan Ekspor
ILUSTRASI. Upaya menahan kejatuhan nilai tukar saat ini dinilai baru sebatas solusi jangka pendek, sehingga dorongan kinerja ekspor mendesak dilakukan.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya menahan kejatuhan nilai tukar saat ini dinilai baru sebatas solusi jangka pendek, sehingga dorongan kinerja ekspor dari sektor riil amat mendesak untuk memperkuat fundamental mata uang Garuda.

Mengutip Bloomberg pada Jumat, (9/10/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.899 per dolar Amerika Serikat (AS) dengan catatan pelemahan 0,09%. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia di hari yang sama mematok rupiah di posisi Rp 17.884 per dolar AS, mencatatkan penguatan sebesar 0,03% dibandingkan hari sebelumnya.

Risiko pelemahan rupiah untuk menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS sejatinya masih terbilang cukup tinggi.

Meski demikian, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Dipo Satria Ramli mengamati sejumlah sentimen yang dapat menahan mata uang agar tidak terperosok lebih dalam.

Baca Juga: Manajemen Pradiksi Gunatama (PGUN) Buka Suara Soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Sentimen penopang tersebut meliputi ketersediaan cadangan devisa yang masih memadai hingga setara lima bulan impor, melebarnya surplus neraca perdagangan pada Agustus, serta meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dari sisi moneter global, ancaman kenaikan suku bunga acuan The Fed juga diproyeksikan baru akan terjadi menjelang penutupan tahun, sehingga memberikan ruang napas sementara bagi pasar domestik.

Dipo menyoroti pergeseran strategi otoritas moneter yang kini mulai menahan laju intervensi langsung di pasar spot demi menjaga ketersediaan amunisi negara.

"Kalau BI intervensi di pasar spot, soalnya itu pakai cadangan devisa. Sedangkan cadangan devisa kita sendiri sudah lumayan turun," ungkap Dipo.

Sebagai gantinya, bank sentral tampak jauh lebih agresif menggunakan instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Baca Juga: Rupiah Rentan Tembus Rp 18.000, Intervensi BI Diminta Fokus Jaga Likuiditas

Langkah ini pada dasarnya berfungsi sebagai insentif lindung nilai (hedging) guna memancing investor asing agar tetap memarkirkan dananya di dalam negeri, tanpa mengharuskan bank sentral menggelontorkan dolar secara tunai saat ini.

Kendati langkah tersebut terbukti efektif menjaga stabilitas jangka pendek, Dipo mengingatkan bahwa manuver tersebut murni merupakan solusi finansial.

Apabila pemerintah mendambakan fondasi nilai tukar yang kebal terhadap guncangan eksternal, jalan utama yang harus ditempuh adalah memacu kinerja ekspor sektor riil, sebuah katalis fundamental yang dampaknya hingga saat ini dinilai belum terlihat signifikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×