kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

Rupiah Dibayangi Sentimen MSCI dan Inflasi AS, Simak Proyeksi Rabu (14/10)


Selasa, 13 Oktober 2026 / 17:20 WIB
Diperbarui Selasa, 13 Oktober 2026 / 17:36 WIB
Rupiah Dibayangi Sentimen MSCI dan Inflasi AS, Simak Proyeksi Rabu (14/10)
ILUSTRASI. Rupiah diproyeksi bergerak di Rp 17.900-Rp 17.950 per dolar AS. Investor mencermati inflasi AS dan perkembangan kajian MSCI. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah pada Rabu (14/10/2026) diperkirakan masih dibayangi ketidakpastian global. Investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta perkembangan kajian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia yang berpotensi memengaruhi sentimen di pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.900 per dolar AS atau menguat 0,07% dibandingkan hari sebelumnya.

Sedangkan rupiah pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ditutup menjadi Rp 17.930 per dolar AS atau melemah 0,17% secara harian, dibanding penutupan Senin yang di level Rp 17.899 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu perhatian investor saat ini adalah hasil kajian MSCI terhadap pasar saham Indonesia.

“Pelaku pasar membaca gelagat sepertinya status pembekuan masih akan diberlakukan oleh MSCI dalam kajian edisi November mendatang,” ungkap Ibrahim, Selasa (13/10/2026).

Baca Juga: Beda Arah Kebijakan Bank Sentral, Begini Prospek Valas Komoditas AUD, NZD dan CAD

Menurut Ibrahim, MSCI menyoroti aspek transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah saham dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), sehingga harga yang terbentuk dipandang belum sepenuhnya mencerminkan transaksi yang riil.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena ketidakpastian terkait status pasar saham Indonesia berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan arus modal asing. Sentimen di pasar saham juga dapat merembet ke pasar valuta asing, terutama melalui perubahan aliran modal dan permintaan terhadap dolar AS.

Pasokan BBM dan Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah

Selain perkembangan MSCI, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari tantangan pemerintah dalam menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.

Konflik tersebut berpotensi memperketat pasokan energi global sekaligus menyulitkan upaya Indonesia mencari pemasok alternatif dalam waktu singkat.

Ibrahim menyebut, keterbatasan pasokan dan kendala logistik dapat meningkatkan harga minyak serta biaya pengadaan. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Indonesia perlu memperkuat sumber pasokan dari Afrika sekaligus menjajaki peluang pengadaan minyak dari Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Mesir, hingga negara-negara Eropa.

Namun, diversifikasi pemasok tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan minyak mentah. Pemerintah dan PT Pertamina juga perlu memperhitungkan harga pembelian, keseluruhan biaya pengadaan, serta dampaknya terhadap kondisi fiskal.

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi. Apabila kebutuhan dolar AS bertambah, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga dapat meningkat, terutama ketika sentimen eksternal sedang kurang kondusif.

Baca Juga: Anak Usaha Alamtri Minerals (ADMR) Rilis Obligasi Rp 2 Triliun, Beri Bunga 8%–8,75%

Inflasi AS Jadi Penentu Arah Dolar

Dari sisi eksternal, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Rabu dan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Kamis.

Inflasi utama AS pada September diperkirakan meningkat 0,6% secara bulanan atau month-on-month (MoM), lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,4%.

Data inflasi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed. Apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat seiring kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat bertahan lebih lama.

Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpeluang mereda.

“Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat juga akan menjadi perhatian pasar,” jelasnya.

Perkembangan inflasi dan pernyataan pejabat The Fed akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan arah dolar AS. Kombinasi sentimen tersebut, bersama perkembangan kajian MSCI dan kondisi pasokan energi global, akan memengaruhi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Untuk perdagangan Rabu (14/10/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×