Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (15/10). Konsolidasi dolar AS dan intervensi Bank Indonesia (BI) berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, sementara ekspektasi suku bunga tinggi The Federal Reserve masih membatasi ruang penguatan.
Melansir data Bloomberg pada Rabu (14/10/2026), rupiah ditutup melemah tipis atau 0,02% secara harian ke level Rp 17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.900 per dolar AS.
Kendati demikian, penguatan tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp 17.898 per dolar AS. Nilai ini menguat 0,18% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar Rp 17.930 per dolar AS.
Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Siapkan Private Placement Lagi, Konversi Utang Rp 1,71 Triliun
Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal maupun internal.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) mengalami konsolidasi setelah mencatatkan reli tajam hingga menembus area resistance kuat. Kondisi tersebut diikuti aksi ambil untung investor menjelang rilis data inflasi dan penjualan ritel AS.
“Lalu rebound moderat di beberapa bursa saham Asia serta penguatan Yuan China (CNY) yang relatif stabil memberi ruang napas bagi mata uang emerging markets,” ungkap Wahyu kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).
Dari sisi domestik, BI dinilai masih berperan menjaga stabilitas rupiah melalui strategi intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi.
Penyerapan likuiditas valuta asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dengan imbal hasil kompetitif juga dinilai dapat membantu menarik aliran dana jangka pendek untuk menahan tekanan arus modal keluar.
Di samping itu, permintaan dolar AS dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban valuta asing disebut mereda sementara setelah meningkat pada awal pekan. Kondisi ini turut mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, Wahyu memperkirakan ruang penguatan rupiah pada perdagangan Kamis masih terbatas. Pergerakan mata uang Garuda cenderung berkonsolidasi dan belum menunjukkan indikasi pembalikan tren yang agresif.
Baca Juga: GoTo (GOTO) Batalkan 32 Miliar Saham Tresuri, Catherine Mundur dari Wakil Dirut
Secara teknikal, Wahyu menyebut, rupiah masih berada dalam pola konsolidasi di area Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer berpotensi menahan apresiasi rupiah. Dia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 17.950 per dolar AS pada Kamis (15/10).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














