kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Rupiah Melemah ke Rp 17.995, Warning Fitch Ratings & Defisit Dagang Jadi Pemicu


Senin, 06 Juli 2026 / 17:56 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 17.995, Warning Fitch Ratings & Defisit Dagang Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS dan ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS pada hari ini. Ini pemicunya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,18% ke level Rp 17.995 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/7/2026). Sentimen negatif datang dari laporan terbaru Fitch Ratings mengenai rapuhnya kondisi makroekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,18% ke level Rp 17.995 per dolar AS pada Senin (6/7/2026), dari posisi penutupan di Jumat (3/7/2026) di Rp 17.963 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun 0,22% menjadi Rp 17.999 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.960 per dolar AS.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Prospeknya Masih Menarik untuk Jangka Panjang

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah Jumat lalu ini dipicu oleh anjloknya kepercayaan investor seiring memburuknya tata kelola ekonomi domestik serta ancaman penurunan peringkat utang.

"Lembaga pemeringkat itu (Fitch Ratings) memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko penurunan peringkat utang Indonesia," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).

Sentimen buruk kian diperparah oleh rilis data neraca perdagangan Mei 2026 yang secara mengejutkan mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar.

Kondisi tersebut sekaligus mengakhiri tren surplus beruntun yang sempat bertahan kuat selama 72 bulan terakhir.

Sementara itu, Direktur Utama PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengungkapkan indikator pelemahan rupiah di sektor internal.

"Beberapa indikator ekonomi Indonesia yang baru dirilis menjadi penekan rupiah seperti defisit neraca perdagangan dan PMI manufaktur yang kontraksi," ungkap Direktur Utama PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Baca Juga: Rupiah Ditutup ke Rp 17.995 Per Dolar AS Hari Ini (6/7), Sempat Tembus Rp 18.000

Penurunan rupiah bahkan sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS selama jam perdagangan berlangsung.

Untuk membendung depresiasi yang lebih dalam, Bank Indonesia terpaksa mengintensifkan intervensi secara berkesinambungan di pasar domestik maupun offshore.

Langkah stabilisasi tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, hingga aksi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank Sentral juga terus memperkuat koordinasi dengan korporasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Kini, para pelaku pasar mulai bersiap mencermati rilis data ekonomi domestik terbaru yang akan keluar esok hari.

Agenda lelang Surat Utang Negara (SUN) serta rilis data cadangan devisa baru diproyeksikan akan menjadi motor penggerak pasar selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×