Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan hati-hati. Sepanjang periode 29 Juni 2026 hingga 3 Juli 2026, IHSG tercatat melemah tipis 0,35% ke level 5.875.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan pergerakan indeks masih terbatas akibat tekanan jual investor asing serta minimnya katalis positif baru di pasar.
“Dari sisi foreign flow, investor asing masih mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp2,9 triliun dalam sepekan. Angka ini menunjukkan sentimen investor asing terhadap pasar saham domestik masih cenderung berhati-hati,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026).
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari data makroekonomi. PMI Manufaktur Indonesia pada Juni turun ke level 46,9 yang mengindikasikan kontraksi. Sementara itu, inflasi meningkat menjadi 3,34% secara tahunan (YoY), memicu kekhawatiran terhadap daya beli dan arah kebijakan suku bunga.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,87% di Awal Perdagangan Senin (6/7), Saham BUMI & DEWA Pimpin Kenaikan
Secara global, pasar saham Amerika Serikat bergerak bervariasi pada sesi terakhir sebelum libur Independence Day. Indeks Dow Jones menguat 1,1% ke 52.900,07, S&P 500 relatif stagnan di 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,8% ke 25.832,67.
Data tenaga kerja Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Nonfarm payrolls Juni hanya bertambah 57.000, lebih rendah dari ekspektasi 110.000, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,2%. Kondisi ini meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Meski demikian, secara mingguan indeks utama Wall Street masih mencatatkan penguatan, dengan Dow Jones naik 2,0%, S&P 500 menguat 1,8%, dan Nasdaq naik 2,1%.
Memasuki pekan 6-10 Juli 2026, pasar global akan mencermati sejumlah data penting seperti final S&P Global Services PMI, trade balance Amerika Serikat, risalah rapat FOMC, jobless claims, serta awal musim laporan keuangan emiten global.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan menanti rilis cadangan devisa Juni, indeks kepercayaan konsumen, serta data penjualan ritel. Data tersebut menjadi krusial di tengah kenaikan inflasi dan tekanan nilai tukar rupiah.
“Pergerakan rupiah di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS, arah yield SBN/SRBI, serta arus dana asing akan menjadi indikator utama untuk menilai apakah tekanan domestik mulai mereda atau tidak,” jelasnya.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas. Support terdekat berada di level 5.800-5.760 dan berpotensi turun ke 5.650 jika tekanan meningkat. Sementara resistance berada di 5.950 hingga area psikologis 6.000-6.050.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.997 Per Dolar AS Hari Ini (6/7), Seluruh Asia Turun
Hari menekankan strategi defensif menjadi pilihan utama dalam kondisi saat ini.
“Strategi yang paling prudent adalah defense first, hindari averaging down agresif pada saham berlikuiditas tipis, gunakan entry bertahap, dan prioritaskan saham big caps yang likuid,” ujarnya.
Ia menambahkan, peluang penguatan IHSG ke level 6.000-6.050 terbuka jika rupiah stabil di bawah Rp17.900 per dolar AS dan investor asing kembali mencatatkan net buy secara konsisten. Sebaliknya, jika rupiah melemah menembus Rp18.000 dan risalah FOMC bernada hawkish, IHSG berpotensi kembali menguji area 5.800-5.650.
IPOT merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati pada pekan ini. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) direkomendasikan beli dengan target harga Rp5.050 dan stop loss Rp4.420 per saham.
Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp3.800 dan stop loss Rp3.380 per saham.
Adapun saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp3.050 dan stop loss Rp2.650 per saham.
Selain saham, instrumen obligasi juga dinilai menarik. Investor dapat mencermati seri FR106 dengan yield to maturity (YTM) sekitar 7,16% untuk tenor panjang, serta FR101 dengan YTM 7,09% bagi yang menginginkan fleksibilitas jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Cadangan Devisa
- IHSG
- Indeks Harga Saham Gabungan
- inflasi
- Obligasi
- INCO
- rupiah
- Saham
- Suku Bunga
- The Fed
- Indeks Kepercayaan Konsumen
- FOMC
- net sell
- pasar modal
- investasi saham
- Dolar AS
- TPIA
- rekomendasi saham
- strategi investasi
- Penjualan ritel
- PMI Manufaktur
- AMMN
- investor asing
- Ekonomi Indonesia
- Indo Premier Sekuritas
- IPOT
- analisa teknikal IHSG
- FR106
- FR101














