kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Fitch Ratings Soroti Makroekonomi dan Ketidakpastian Regulasi, Ini Dampak bagi Emiten


Selasa, 30 Juni 2026 / 21:02 WIB
Fitch Ratings Soroti Makroekonomi dan Ketidakpastian Regulasi, Ini Dampak bagi Emiten
ILUSTRASI. Fitch Ratings soroti tekanan makroekonomi dan regulasi pada emiten. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan di Indonesia menghadapi peningkatan risiko akibat lingkungan makroekonomi yang menantang serta meningkatnya ketidakpastian regulasi, menurut laporan Fitch Ratings. Namun demikian, sebagian besar perusahaan Indonesia yang diperingkat oleh Fitch masih memiliki ruang yang memadai dalam profil kredit saat ini.

Melansir Bloomberg, Selasa (30/6/2026), kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, meningkatnya suku bunga, dan melemahnya nilai tukar rupiah meningkatkan risiko permintaan pada sektor-sektor konsumen yang bergantung pada belanja diskresioner atau belanja yang tidak bersifat kebutuhan pokok, serta pembiayaan kredit seperti sektor otomotif dan properti.

Depresiasi mata uang yang terus berlanjut dapat menekan margin perusahaan yang bergantung pada impor dengan kemampuan terbatas untuk membebankan kenaikan biaya kepada konsumen (cost pass-through).

Suku bunga kebijakan yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan biaya pembiayaan dan membatasi fleksibilitas bagi emiten dengan tingkat utang yang tinggi. Fitch Ratings memperkirakan perubahan regulasi akan terus menjadi risiko bagi perusahaan di sektor-sektor strategis, seperti sumber daya alam.

Di sisi lain, Fitch Ratings juga memperkirakan perusahaan yang memiliki pricing power yang kuat, permintaan yang bersifat defensif, diversifikasi pendapatan atau geografis, serta struktur modal yang konservatif akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk menghadapi tantangan tersebut.

Baca Juga: OJK Targetkan Regulasi Demutualisasi Bursa Rampung dalam 3 Bulan

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, mengatakan laporan Indonesia Credit Trends: June 2026 yang dirilis Fitch Ratings pada 30 Juni 2026 menunjukkan investor asing masih menyoroti perkembangan kondisi makroekonomi dan arah kebijakan regulasi di Indonesia.

Dari sisi makroekonomi, perhatian pasar tertuju pada meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir menjadi 5,75% per Juni 2026, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi sekitar 8,8% hingga menyentuh level Rp 18.200 per dolar Amerika Serikat pada 8 Juni 2026.

Selain faktor makro, ketidakpastian regulasi juga menjadi perhatian investor. Salah satunya adalah implementasi kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai berpotensi memengaruhi eksposur komoditas unggulan Indonesia, seperti batu bara dan crude palm oil (CPO), di pasar global, termasuk bagi emiten yang selama ini telah mematuhi ketentuan yang berlaku.

"Regulasi tersebut juga membuat tax planning emiten menjadi terbatas. Selain royalti yang lebih tinggi, dari sisi bottom line porsi pajak badan yang dibayarkan juga lebih tinggi atau mengurangi earnings after tax (EAT) bagi emiten yang memiliki transaksi afiliasi besar, termasuk pelaku under invoicing," kata Ratih kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Di satu sisi, kebijakan ini baik bagi penerimaan pemerintah untuk membiayai program prioritas.

Tekanan terhadap Emiten

Ratih menambahkan, risiko tertinggi berada pada emiten dengan tingkat leverage tinggi yang masih mengandalkan pendanaan floating rate dari perbankan serta instrumen global bond tanpa lindung nilai (unhedged) yang memadai.

Sektor properti dan ritel non-primer menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan beban bunga seiring naiknya suku bunga acuan, sementara arus kas masuk juga terhambat karena inflasi BBM non-subsidi menggerus daya beli masyarakat terhadap barang-barang non-esensial.

Selain itu, emiten yang menggunakan rupiah sebagai mata uang fungsional namun memiliki kewajiban dalam mata uang asing juga menghadapi sentimen negatif. Pelemahan rupiah sebesar 8,8% secara otomatis meningkatkan nilai pokok maupun bunga utang dalam valuta asing.

Sebagai contoh, Ratih menyebut PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang memiliki porsi global bond mencapai sekitar 97% dari total utang berbunga berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026. Meskipun kupon obligasi tersebut bersifat fixed rate, global bond ICBP tidak disertai dengan lindung nilai (hedging).

Baca Juga: Saham yang Banyak Diburu Asing Saat IHSG Ambruk ke 5.643 di Penghujung Juni 2026

Dihubungi terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menerangkan sektor yang paling rentan adalah sektor yang bergantung pada daya beli masyarakat, pembiayaan kredit, serta impor bahan baku atau produk jadi, seperti otomotif, properti, dan sebagian emiten ritel.

Selain itu, sektor yang sangat dipengaruhi perubahan regulasi, seperti sumber daya alam, juga perlu dicermati karena berpotensi menghadapi peningkatan regulatory risk.

Menurut Elandry, emiten dengan leverage tinggi, arus kas yang belum stabil, serta kemampuan cost pass-through yang terbatas akan menghadapi tekanan lebih besar dalam memenuhi kewajiban utangnya apabila suku bunga tetap tinggi dan rupiah melemah.

Sebaliknya, emiten dengan neraca yang sehat, pricing power yang kuat, arus kas stabil, dan diversifikasi pendapatan relatif lebih mampu menjaga profil kreditnya.

"Saya melihat sektor perbankan besar, telekomunikasi, consumer staples, dan beberapa emiten komoditas masih berada pada posisi yang cukup resilien," ucap Elandry.

Elandry merinci, emiten yang relatif rentan ialah BSDE, PWON, ERAA, MAPI, dan ASII. Sementara itu, emiten yang relatif resilien adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ICBP, dan UNVR.

"Bukan berarti emiten tersebut pasti naik atau turun, tetapi secara umum lebih sensitif atau lebih defensif terhadap kondisi makro dan ketidakpastian regulasi," ujar Elandry.

Dari sisi prospek emiten pada semester II-2026, Elandry berpandangan prospeknya akan cukup beragam. Ia cenderung lebih positif terhadap emiten yang memiliki fundamental kuat, pricing power, dan arus kas yang stabil, seperti BBCA, BBNI, BMRI, TLKM, ICBP, INDF, dan ANTM.

Sementara itu, emiten di sektor otomotif, properti, dan ritel seperti ASII, ERAA, MAPI, BSDE, CTRA, dan PWON masih berpotensi menghadapi tantangan apabila daya beli belum pulih, suku bunga tetap tinggi, dan rupiah masih tertekan.

Strategi untuk Emiten dan Investor

Elandry juga menerangkan strategi yang perlu dilakukan emiten adalah menjaga likuiditas, melakukan efisiensi operasional, mengelola risiko nilai tukar (hedging) bagi yang memiliki eksposur impor atau utang valas, serta memperkuat arus kas.

Baca Juga: Kinerja NCKL Masih Prospektif di 2026, Cermati Rekomendasi Analis

Bagi investor, Elandry menyarankan agar lebih selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, dan struktur permodalan yang konservatif.

Adapun Ratih menilai langkah yang dapat ditempuh emiten antara lain melakukan efisiensi biaya, menunda ekspansi, melakukan divestasi aset non-inti untuk menjaga arus kas, serta bernegosiasi dengan perbankan guna mengubah bunga pinjaman dari floating rate menjadi fixed rate atau memperpanjang tenor pinjaman sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan.

Sementara bagi investor, strategi yang dapat diterapkan untuk menghadapi potensi arus keluar dana asing (foreign outflow) adalah mengutamakan perlindungan modal melalui rotasi portofolio ke instrumen yang lebih defensif dan mampu memberikan pendapatan pasif.

Ratih menyarankan komposisi portofolio yang dapat dipertimbangkan yakni 30% saham, 30% reksa dana pasar uang (RDPU) dan reksa dana pendapatan tetap (RDPT), serta 40% kas.

Di sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dinilai masih menarik karena menawarkan estimasi dividend yield masing-masing sebesar 13,1% dan 12,9%, dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) tahun buku 2025 dan laba bersih trailing twelve months (TTM) hingga kuartal I-2026.

Rekomendasi Saham

Untuk target harga saham hingga akhir tahun, Elandry menggunakan asumsi rentang menengah di tengah pasar yang cenderung volatil, yaitu:

  • BBCA: Rp 7.000

  • BMRI: Rp 5.000

  • BBRI: Rp 3.500

  • TLKM: Rp 3.200

  • ASII: Rp 6.000

  • ANTM: Rp 3.500

Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilego di Akhir Juni 2026

Adapun Ratih menyarankan sejumlah saham yang layak dicermati berdasarkan analisis teknikal, antara lain:

1. BMRI

Rekomendasi: Buy on weakness

Resistance: Rp 4.500

Support: Rp 3.600

2. EXCL

Rekomendasi: Accumulative buy

Resistance: Rp 2.900

Support: Rp 2.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×