Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Senin (6/7/2026), didorong optimisme menjelang musim laporan keuangan emiten global serta penurunan harga minyak yang dinilai dapat meredakan tekanan inflasi.
Kontrak berjangka (futures) Wall Street juga dibuka menguat pada awal pekan, mencerminkan harapan investor terhadap kinerja keuangan perusahaan, terutama sektor teknologi yang masih ditopang permintaan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: 500.000 Lebih Investor Antre IPO Saham EMMI, Penawaran Umum Ditutup Hari Ini Jam 9!
Mengutip Reuters, belum ada perkembangan baru dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berjalan normal, dengan sekitar 160 kapal melintas sepanjang Senin hingga Sabtu pekan lalu.
Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ kembali menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus, setelah sebelumnya juga meningkatkan produksi pada Juni dan Juli.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak turun. Minyak mentah Brent melemah sekitar 0,6% ke level US$ 71,70 per barel, mendekati posisi terendah dalam empat bulan terakhir. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,5% menjadi US$ 68,38 per barel.
Baca Juga: IPO Saham BACH Ditutup Hari Ini Jam 9, 600.000 Lebih Investor Antre Penawaran Umum
Penurunan harga energi, ditambah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.
Kontrak berjangka suku bunga kini menunjukkan peluang sekitar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 29 Juli mendatang.
Pelaku pasar juga menantikan risalah rapat The Fed yang akan dirilis pada Rabu (8/7) untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Kepala Riset ANZ Richard Yetsenga menilai, peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil meskipun inflasi masih berada di atas target bank sentral.
"Kalaupun sebelumnya ada risiko kenaikan suku bunga, saya rasa untuk setidaknya satu bulan ke depan pasar relatif aman," ujarnya.
Musim laba emiten jadi sorotan
Meredanya kekhawatiran terhadap suku bunga membuat perhatian investor beralih ke musim laporan keuangan kuartal II-2026.
Sejumlah emiten besar dijadwalkan merilis kinerja pekan ini, termasuk Delta Air Lines, PepsiCo, serta Samsung Electronics.
Samsung diperkirakan menjadi sorotan utama setelah analis memproyeksikan laba operasinya melonjak sekitar 18 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong tingginya permintaan chip memori untuk kebutuhan AI.
Baca Juga: Direksi Amman Mineral (AMMN) Borong Saham, Berikut Target Harga Konsensus Analis
Berdasarkan estimasi LSEG SmartEstimate, Samsung diperkirakan membukukan laba operasi sebesar 86 triliun won pada kuartal II-2026.
Optimisme terhadap sektor semikonduktor juga mendorong penguatan pasar saham Korea Selatan. Indeks saham utama negara tersebut naik sekitar 2,25% pada perdagangan Senin, setelah menguat sekitar 92% sepanjang tahun ini.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,4%, sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang melemah tipis 0,1%.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,5%, sementara futures Nasdaq melonjak 1,4%, melanjutkan kenaikan 2,1% pada pekan sebelumnya.
Investor pantau data ekonomi dan bank sentral
Dari sisi ekonomi, perhatian investor tertuju pada rilis indeks aktivitas sektor jasa ISM Services Amerika Serikat yang diperkirakan turun tipis menjadi 54 pada Juni, namun masih berada di zona ekspansi.
Baca Juga: ORI030 Ditawarkan Mulai Hari Ini (6/7): Kupon 7% Siap Cair, Ini Cara Pemesanannya
Sejumlah pejabat bank sentral juga dijadwalkan menyampaikan pidato dalam forum yang diselenggarakan Bank Sentral Eropa (ECB), termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller dan Presiden ECB Christine Lagarde.
Sementara itu, bank sentral Selandia Baru akan menggelar rapat kebijakan moneter pada Rabu. Pasar memperkirakan suku bunga acuan akan dinaikkan 25 basis poin menjadi 2,5%, meskipun penurunan harga minyak membuka peluang bank sentral mempertahankan suku bunga.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bergerak stabil di level 100,880. Euro diperdagangkan di US$ 1,1445, sedangkan dolar AS bertahan di 161,45 yen, tidak jauh dari level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.
Adapun harga emas relatif stabil di kisaran US$ 4.177 per ons, setelah menguat sekitar 2% sepanjang pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














