kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.954   -19,00   -0,11%
  • IDX 6.012   128,10   2,18%
  • KOMPAS100 782   17,97   2,35%
  • LQ45 591   12,69   2,19%
  • ISSI 209   5,08   2,50%
  • IDX30 335   7,56   2,31%
  • IDXHIDIV20 410   8,16   2,03%
  • IDX80 89   1,99   2,29%
  • IDXV30 111   2,66   2,44%
  • IDXQ30 107   2,48   2,36%

Rupiah Masih Sulit Bangkit Meski BI Rate Naik 100 Bps, Ini Faktor Pemberatnya


Kamis, 25 Juni 2026 / 14:25 WIB
Rupiah Masih Sulit Bangkit Meski BI Rate Naik 100 Bps, Ini Faktor Pemberatnya
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) sejak April 2026.

Seperti diketahui, BI Rate telah naik dari 4,75% pada April menjadi 5,75% per 18 Juni 2026. Namun, langkah tersebut belum mampu mengangkat posisi rupiah yang kembali bergerak di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (25/6/2026) pukul 13.58 WIB, rupiah di pasar spot berada di Rp 17.949 per dolar AS, menguat tipis 0,02% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS.

Baca Juga: Penjualan Toko Aspirasi Hidup (ACES) Tumbuh 2,1% Hingga Mei 2026, Ini Pendorongnya

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai kenaikan BI Rate belum efektif menopang rupiah lantaran tekanan yang dihadapi lebih banyak berasal dari faktor eksternal dan persepsi risiko investor dibandingkan perbedaan tingkat suku bunga.

Menurut Rizal, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung memburu dolar AS.

"Sentimen pemberat rupiah terutama datang dari ketidakpastian global, tekanan harga energi, capital outflow, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, serta persepsi investor terhadap arah kebijakan domestik," kata Rizal kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).

Selain itu, munculnya kekhawatiran terkait potensi penurunan status Indonesia dalam indeks MSCI turut menjadi sentimen negatif. Risiko tersebut dinilai dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.

Dalam kondisi saat ini, Rizal menilai upaya menjaga stabilitas nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan suku bunga. 

"Bank Indonesia perlu mengoptimalkan instrumen stabilisasi lain, seperti intervensi di pasar valas, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI)," kata Rizal.

Baca Juga: Perencanaan Waris BRI Private Bantu Nasabah Teruskan Nilai dan Aset Antargenerasi

Selain itu, efektivitas implementasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga perlu dijaga guna memastikan pasokan valuta asing tetap memadai di pasar domestik.

Menurutnya, fokus utama saat ini adalah menjaga likuiditas dolar AS, memperkuat kredibilitas kebijakan, serta meredam ekspektasi pelemahan rupiah yang dapat memicu tekanan lebih lanjut.

Apabila rupiah bertahan di level Rp 17.900 per dolar AS dalam jangka waktu yang lebih panjang, sejumlah risiko diperkirakan akan meningkat. Di antaranya adalah imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya impor bahan baku, tekanan terhadap subsidi energi, hingga bertambahnya beban utang valas korporasi maupun pemerintah.

Rizal menambahkan, sejumlah sektor yang dinilai paling rentan terhadap pelemahan rupiah antara lain energi, farmasi, industri berbahan baku impor, pangan impor, aviasi serta emiten yang memiliki porsi utang valas besar tetapi pendapatannya didominasi rupiah.

Untuk semester II-2026, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas tinggi. 

Dengan tekanan global yang masih kuat dan kebutuhan valas domestik yang tetap besar, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.200 per dolar AS.

Adapun ruang penguatan rupiah diperkirakan akan terbuka apabila harga minyak dunia mulai mereda, arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik, serta kredibilitas fiskal pemerintah semakin membaik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×