Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor penutupan terburuk sepanjang sejarah.
Melansir data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,12% menjadi Rp 17.346 per dolar AS pada Kamis (30/4/2026). Ini adalah rekor penutupan paling lemah rupiah sepanjang masa.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, pelemahan ini dinilai dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang membentuk "badai sempurna" di pasar keuangan.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Vale (INCO) yang Cetak Kinerja Cemerlang di Kuartal I-2026
Dari sisi domestik, sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor global.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai struktur pelaporan yang terlalu terpusat meningkatkan risiko tata kelola.
"Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).
Di sisi global, eskalasi konflik Timur Tengah serta dinamika di pasar minyak turut memperburuk tekanan yang membuat harga minyak Brent menyentuh level US$ 108 per barel sehingga meningkatkan beban impor energi Indonesia.
Wahyu memperkirakan, rupiah masih berada dalam tekanan, terutama pada awal bulan Mei.
Sejumlah sentimen negatif yang membayangi antara lain rilis data inflasi domestik yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga BBM non-subsidi, serta faktor musiman berupa aliran dividen ke investor asing yang mendorong arus keluar modal.
Di sisi global, sikap hawkish Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) juga menjadi faktor penekan tambahan.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (2/5): Turun Rp 3.000 Jadi Rp 2.796.000 Per Gram
Dalam skenario terburuk, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.800 per dolar AS jika tekanan eksternal dan domestik tidak mereda.
"Rupiah bisa berbalik arah jika terdapat intervensi BI yang lebih agresif, data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang kembali melebar, dan meredanya tensi geopolitik global yang menurunkan harga minyak ke bawah US$ 90," kata Wahyu.
Sejauh ini, kebijakan stabilisasi melalui skema triple intervention—pasar spot, DNDF, dan obligasi—dinilai cukup efektif dalam meredam volatilitas.
Namun, langkah tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah.
Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$ 148 miliar masih tergolong memadai, tetapi pasar mulai mencermati kecepatan penggunaannya dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













