Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (16/6/2026).
Indeks Dow Jones kembali mencetak rekor penutupan tertinggi untuk dua hari beruntun, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi akibat tekanan pada saham-saham teknologi setelah reli tajam sehari sebelumnya.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 328,64 poin atau 0,64% ke level 51.999,67. Sebaliknya, S&P 500 turun 0,57% menjadi 7.511,35 dan Nasdaq Composite melemah 1,15% ke posisi 26.376,34.
Pergerakan tersebut mencerminkan aksi ambil untung investor pada sektor teknologi setelah pasar melonjak kuat pada awal pekan.
Pada Senin (15/6), S&P 500 menguat 1,65% dan Nasdaq melesat lebih dari 3% seiring optimisme atas prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham Teknologi dan Data Tenaga Kerja AS Jadi Pendorong
Kepala Strategi Investasi Janney Montgomery Scott, Mark Luschini, menilai investor memilih menahan diri setelah kenaikan besar yang terjadi sebelumnya sekaligus menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
"Pasar mengalami kenaikan besar kemarin. Saat ini investor sedang mencerna kenaikan tersebut dan biasanya menjelang rapat The Fed sentimen menjadi lebih berhati-hati," ujar Luschini.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, tujuh sektor berhasil ditutup di zona hijau.
Sektor keuangan memimpin kenaikan dengan penguatan 1,5%, disusul sektor industri yang naik 0,7%. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi pemberat utama dengan penurunan 2,3%.
Saham-saham semikonduktor juga terkoreksi tajam setelah mencatat reli kuat dalam tiga sesi sebelumnya. Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 5,7%.
Di sisi lain, penurunan harga minyak turut menopang sentimen pasar.
Harga minyak mentah AS ditutup turun 5,8% setelah muncul rincian kesepakatan sementara AS-Iran yang diperkirakan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya terganggu akibat konflik.
Baca Juga: Wall Street Reli: Indeks Dow Capai Rekor Tertinggi, S&P 500 Melaju 8 Minggu Beruntun
Turunnya harga energi meredakan kekhawatiran inflasi yang sempat meningkat sejak pecahnya konflik pada Februari lalu.
Meski demikian, fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, serta prospek ekonomi AS.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, investor tetap mencermati sinyal arah kebijakan berikutnya.
Berdasarkan FedWatch CME Group, pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 43% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Di tengah tekanan sektor teknologi, saham SpaceX justru menjadi sorotan. Saham perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan tersebut melonjak 4,8% ke US$201,80 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 225,64.
Kenaikan itu membuat kapitalisasi pasar SpaceX melampaui Amazon dan menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat.
Pada perdagangan individual, saham Olin merosot 5,9% setelah mengumumkan akuisisi Huntsman senilai US$2,43 miliar melalui skema pertukaran saham.
Sementara itu, saham Huntsman anjlok 17% karena nilai penawaran dinilai berada di bawah harga pasar sebelumnya.
Baca Juga: Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin
Adapun saham Yum Brands menguat 1,9% setelah perusahaan mengumumkan rencana penjualan jaringan Pizza Hut senilai US$2,7 miliar sebagai bagian dari strategi menghadapi persaingan yang semakin ketat dan perlambatan belanja konsumen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













