Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah di akhir pekan lalu, hampir mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah pun diproyeksi kembali dalam tekanan di awal pekan ini.
Melansir data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,12% ke level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026).
Sejalan dengan itu, rupiah JISDOR Bank Indonesia (BI) melemah Rp 33 atau 0,20% menjadi Rp 16.919 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sehingga kondisi tersebut mendorong investor global mencari aset yang lebih aman sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Pilihan dan Proyeksi IHSG untuk Hari Ini (9/3)
“Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk akibat memanasnya situasi di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga turut menekan mata uang Garuda. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Di sisi lain, penurunan cadangan devisa Indonesia juga menjadi sentimen tambahan yang membebani pergerakan rupiah.
Memasuki awal pekan depan, Lukman menilai arah rupiah masih akan sangat dipengaruhi sentimen global, terutama dari data ekonomi Amerika Serikat.
Ia menyoroti rilis data ketenagakerjaan AS yang berpotensi menunjukkan hasil kuat, sejalan dengan serangkaian data ekonomi AS yang sebelumnya juga solid.
Meski demikian, Lukman memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut, walaupun BI diperkirakan tetap aktif melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Indeks Kompas100 Terjun 11%: Analis Justru Rekomendasi Beli Saham Berikut
Untuk perdagangan hari ini (9/3/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













