kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Rupiah dan 3 Mata Uang Asia Tertekan, Ini Level yang Perlu Dicermati


Kamis, 17 September 2026 / 19:43 WIB
Rupiah dan 3 Mata Uang Asia Tertekan, Ini Level yang Perlu Dicermati
ILUSTRASI. Sejumlah mata uang Asia masih bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2026. (REUTERS/Thomas White)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah mata uang Asia masih bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2026. Rupee India, peso Filipina, rupiah Indonesia, dan baht Thailand menjadi empat mata uang kawasan yang mencatat pelemahan lebih dari 5% sejak awal tahun.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 17.20 WIB, rupee India berada di level 96,01 per dolar AS atau melemah 6,77% secara year to date (YtD).

Pelemahan berikutnya terjadi pada peso Filipina yang berada di level 62,72 per dolar AS. Mata uang tersebut tercatat melemah 6,46% sejak awal tahun.

Sementara itu, rupiah berada di level Rp17.742 per dolar AS dan telah melemah 6,33% secara YtD. Baht Thailand juga tertekan 5,77% ke level 33,36 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Asia tersebut terjadi setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Kebijakan tersebut turut memengaruhi pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang kembali berada di atas level 100.

Baca Juga: Bayan Resources (BYAN) Teken Perjanjian untuk Jual 10 Miliar Saham ke Haji Isam

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed dapat memperlebar selisih imbal hasil aset berbasis dolar AS dan aset emerging market sehingga berpotensi mendorong investor mengalihkan dana ke aset dolar AS.

"Jika The Fed menaikkan suku bunga, yield spread antara aset dolar AS dan aset emerging market semakin lebar. Ini bisa memicu capital outflow dan menekan likuiditas valas regional Asia," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap masing-masing mata uang Asia juga dipengaruhi oleh kondisi fundamental domestik.

Pada peso Filipina, kebutuhan impor pangan dan energi serta defisit transaksi berjalan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.

Sementara itu, rupee India sensitif terhadap kebutuhan impor minyak. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupee.

Faktor harga energi juga menjadi perhatian terhadap pergerakan baht Thailand. Adapun untuk rupiah, Wahyu mencermati potensi arus keluar investor asing dari surat utang pemerintah apabila imbal hasil US Treasury menjadi lebih menarik.

Prospek Rupiah dan Level USD/IDR

Dari sisi teknikal, Wahyu melihat pasangan USD/IDR saat ini berada di sekitar 17.743 setelah sebelumnya membentuk level tertinggi 52 pekan di kisaran 18.197.

Baca Juga: Low Tuck Kwong dan Putrinya Teken Perjanjian Jual Beli Saham BYAN ke Jhonlin Baratama

Pergerakan tersebut menunjukkan fase koreksi teknikal dan membuka ruang konsolidasi menjelang akhir tahun.

Untuk USD/IDR, level resistance berada di 17.950 dan 18.200. Sementara itu, level support berada di 17.500 dan 17.200.

"Struktur grafik menunjukkan fase koreksi teknikal setelah membentuk peak di kisaran 18.197. Aksi intervensi dan stabilisasi menjaga momentum bullish tertahan, membuka ruang konsolidasi sehat menjelang akhir tahun," ujar Wahyu.

Level USD/INR

Adapun USD/INR berada di sekitar 95,988 dan masih bergerak dalam tren bullish di dekat batas atas rentang 52 pekan.

Level resistance yang perlu diperhatikan berada di 96.200 dan 97.000. Sementara itu, level support berada di 95.000 dan 94.000.

Level USD/THB

Untuk USD/THB yang berada di sekitar 33,345, pergerakan cenderung berada dalam pola konsolidasi.

Resistance berada di 33,60 dan 33,90, sedangkan support berada di 32,90 dan 32,20.

Siklus musiman pariwisata menjelang akhir tahun dapat menjadi salah satu faktor yang memberikan bantalan bagi baht dan membatasi ruang penguatan dolar AS.

Baca Juga: ALII dan SILO Dikeluarkan dari FTSE Russell, Ini Dampaknya ke Harga Saham

Level USD/PHP

Sementara itu, USD/PHP berada di sekitar 62,745 dan bergerak dekat level tertinggi 52 pekan di 62,945.

Resistance berada di 62,95 dan 63,50, sedangkan support berada di 62,00 dan 61,20.

Dengan perkembangan tersebut, level teknikal pada keempat pasangan mata uang tersebut menjadi salah satu acuan yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun. Pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan The Fed, yield US Treasury, arus modal, serta kondisi fundamental di masing-masing negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×