Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% dinilai belum mampu menjadi penopang kuat bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski sempat menguat tipis pada perdagangan terakhir, mata uang Garuda masih bertahan di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,05% ke level Rp 17.943 per dolar AS pada Kamis (25/6), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental yang cukup kuat untuk mengangkat kinerja rupiah secara berkelanjutan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai tekanan yang dihadapi rupiah saat ini jauh lebih besar dibandingkan dampak positif yang dihasilkan dari kenaikan suku bunga acuan.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.943 Per Dolar AS Hari Ini (25/6), Asia Perkasa
"Persoalannya bukan pada kebijakan BI, melainkan pada besarnya tekanan yang sedang dihadapi. Kenaikan suku bunga pada dasarnya hanya bekerja melalui satu jalur, yaitu meningkatkan daya tarik aset rupiah dibandingkan aset lain," ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Menurut Yusuf, ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS masih berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat membuat dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap tinggi. Kondisi tersebut mendorong investor global bertahan pada aset-aset berbasis dolar AS yang dinilai lebih aman.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven dan mengurangi minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Karena itu, Yusuf menilai kenaikan BI Rate saat ini lebih berfungsi untuk menahan laju pelemahan rupiah dibandingkan membalikkan arah pergerakan nilai tukar secara signifikan. Tanpa langkah tersebut, tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih besar.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS, sikap hawkish The Fed serta meningkatnya premi risiko akibat konflik geopolitik menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, permintaan dolar AS meningkat untuk pembayaran dividen perusahaan asing, kewajiban utang luar negeri, hingga kebutuhan musiman seperti penyelenggaraan ibadah haji.
Selain itu, pasar juga mencermati sejumlah isu struktural, mulai dari surplus perdagangan yang menyusut, penurunan cadangan devisa, hingga kekhawatiran terhadap daya tarik pasar keuangan Indonesia setelah MSCI memperpanjang evaluasi aksesibilitas pasar domestik.
"Faktor-faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih persisten dan tidak sekadar bersifat jangka pendek," kata Yusuf.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Turun, Rupiah Menguat ke Rp 17.943 per Dolar AS
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Yusuf menilai langkah yang lebih efektif saat ini bukan hanya melalui kenaikan suku bunga. Menurutnya, BI telah mengandalkan instrumen yang lebih terarah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mampu menarik aliran dana asing tanpa meningkatkan biaya kredit secara luas di dalam perekonomian.
Selain itu, BI juga memperkuat stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan swap valas. Kebijakan yang mendorong devisa hasil ekspor (DHE) tetap berada di dalam negeri juga dinilai penting untuk memperkuat pasokan dolar AS di pasar domestik.
Meski demikian, Yusuf menekankan bahwa sumber pasokan devisa yang paling berkelanjutan tetap berasal dari investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
"Arus modal portofolio dapat keluar masuk dengan cepat, sementara investasi langsung menciptakan pasokan devisa yang lebih stabil dan berjangka panjang," ujarnya.
Yusuf mengingatkan, apabila rupiah bertahan di kisaran Rp17.900 per dolar AS dalam waktu lama, risiko utama yang muncul adalah meningkatnya tekanan inflasi impor. Harga energi, pangan, dan barang modal berpotensi naik karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Selain itu, beban pembayaran utang valas pemerintah maupun korporasi akan meningkat dan berpotensi menekan ruang ekspansi usaha.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,12% ke Rp 17.930 per Dolar AS pada Kamis (25/6) Siang
Adapun sektor yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah antara lain industri otomotif, elektronik, farmasi, dan tekstil yang masih bergantung pada bahan baku impor. Perusahaan yang memiliki utang dolar AS tanpa lindung nilai (hedging) juga berisiko menghadapi tekanan arus kas yang lebih besar.
Untuk semester II-2026, Yusuf memperkirakan peluang penguatan rupiah masih terbuka, meskipun relatif terbatas. Menurutnya, tekanan musiman diperkirakan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini dan kondisi geopolitik global diharapkan lebih stabil.
Namun, arah pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, harga minyak dunia serta persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
"Saya cenderung menggunakan skenario moderat dengan kisaran Rp17.300 hingga Rp18.200 per dolar AS untuk semester II," kata Yusuf.
Menurut Yusuf, rupiah masih berpeluang menguat dari level saat ini. Namun, selama dolar AS tetap kuat dan ketidakpastian global masih tinggi, penguatan yang terjadi kemungkinan lebih mencerminkan proses stabilisasi dibandingkan awal dari tren apresiasi yang signifikan.
Baca Juga: Rupiah Masih Sulit Bangkit Meski BI Rate Naik 100 Bps, Ini Faktor Pemberatnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














