Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang rupiah diperkirakan masih dibayangi sentimen negatif global yang berpotensi menekan pergerakannya pada perdagangan Rabu (16/9).
Mengutip data Bloomberg pada Selasa (15/9), mata uang Garuda ditutup melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.687 per dolar AS pada Selasa (15/9), atau melemah 0,29% dibandingkan hari sebelumnya di level Rp 17.635 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,13% ke 6.461, Top Losers LQ45: ESSA, ICBP, BBNI, Selasa (15/9)
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (15/9) dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di pasar global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed turut memberikan tekanan bagi mata uang kawasan emerging markets, termasuk rupiah.
Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada Rabu (16/9) akan digerakkan oleh faktor eksternal. Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dan memperkuat posisi di sepanjang Laut Merah serta Selat Bab al-Mandab.
Eskalasi ini mengancam pasokan minyak global setelah fasilitas pipa minyak lintas negara milik Riyadh terdampak. Para analis memperkirakan gangguan ofensif tersebut dapat menambah 4% hingga 5% dari pasokan minyak dunia.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik makin diperberat oleh penundaan pembicaraan Selat Hormuz setelah Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan damai.
"Iran menyatakan tidak akan ada dialog dengan AS sampai syarat-syarat mereka dipenuhi," kata Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Dari sisi data ekonomi AS, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Agustus tercatat naik 0,4% secara bulanan (MoM), sementara CPI inti naik 0,3% MoM yang merupakan laju tercepat dalam empat bulan terakhir.
Data ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini.
Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini melonjak menjadi 89% dari posisi pekan sebelumnya yang sebesar 59,4%.
Sementara dari dalam negeri, pasar merespons positif pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Penunjukan teknokrat fiskal yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 ini dinilai pasar memberikan kepastian dan keberlanjutan disiplin fiskal, terutama dalam menjaga defisit APBN tetap di bawah 3%.
Meski demikian, tantangan fiskal ke depan dinilai cukup besar seiring dengan target pertumbuhan ekonomi 6% dalam RAPBN 2027 serta pembiayaan defisit yang mencapai Rp 571,2 triliun.
"Suahasil harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia," ujar Ibrahim.
Untuk perdagangan Rabu (16/9), Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi ditutup melemah pada rentang Rp 17.690 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Prospek Pergerakan Masih Bearish
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














