kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Rupiah Berpotensi Melemah Lagi, Efisiensi APBN Jadi Sentimen Domestik


Senin, 14 September 2026 / 15:49 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah Lagi, Efisiensi APBN Jadi Sentimen Domestik
ILUSTRASI. Rupiah Kembali Melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/9/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut, sementara dari sisi domestik pasar mencermati upaya pemerintah menjaga kondisi fiskal melalui efisiensi anggaran.

Mengutip data Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp 17.669 per dolar AS pada Senin (14/9/2026), melemah 0,33% dibandingkan posisi penutupan Jumat (11/9/2026) di level Rp 17.611 per dolar AS.

Sementara berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 17.635 per dolar AS pada Senin, melemah dari Rp 17.611 per dolar AS pada perdagangan Jumat.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kondisi fiskal menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di tengah tantangan ekonomi global. Pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran guna menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.669 Per Dolar AS Hari Ini (14/9), Seluruh Asia Turun

"Yang perlu dijaga bukan besarnya anggaran MBG, tetapi efektivitas belanjanya. Kalau ruang efisiensi di BGN masih ada, pemangkasan seharusnya dilanjutkan," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Menurut Ibrahim, efisiensi dapat dilakukan pada komponen yang tidak produktif, termasuk pemborosan operasional, biaya dapur, logistik, maupun cakupan program yang terlalu longgar. Selain MBG, pemerintah juga masih memiliki ruang efisiensi pada belanja administratif kementerian dan lembaga (K/L).

Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Perekonomian global pada 2026 diperkirakan menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya harga energi, suku bunga global yang masih tinggi, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,23% ke Rp 17.651 per Dolar AS pada Senin (14/9) Pagi

Ibrahim juga menyoroti kebijakan subsidi energi. Menurut dia, pemerintah perlu lebih mengutamakan ketepatan sasaran dibandingkan melakukan pemangkasan secara kasar.

"Untuk subsidi energi, pemerintah juga dinilai lebih baik memperbaiki ketepatan sasaran daripada melakukan pemotongan secara kasar. Sebab, pemangkasan subsidi berpotensi langsung berdampak pada harga dan daya beli masyarakat," kata Ibrahim.

Untuk perdagangan Selasa (15/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp 17.660-Rp 17.710 per dolar AS.

Baca Juga: Otot Rupiah Masih Loyo, Ekonom Proyeksi Penguatan Tak Akan Linier

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×