Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan aksi korporasi rights issue untuk memperkuat permodalan dan mendukung rencana ekspansi. Diantara emiten tersebut ada yang dimiliki para pesohor seperti pengusaha tenar Garibaldi Thohir atau Boy Thohir dan investor ternama Andry Hakim.
Empat emiten yang menjadi perhatian adalah PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS), PT DMS Propertindo Tbk (KOTA), dan PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).
Andry Hakim tercatat sebagai pemilik saham CBRE berjumlah 230.000.074 saham atau 5,07% dari saham beredar. Boy Thohir pada September 2026 ini memborong 30 juta saham MGLV untuk memperkuat investasinya di sektor pusat data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Sebelumnya, Boy Thohir telah terhubung dengan MGLV melalui entitas PT Trinugraha Thohir dan PT Trinugraha Thohir Harmoni. Berdasarkan data per 2 September 2026, Trinugraha Thohir Harmoni menjadi pemegang saham terbesar kedua di MGLV dengan menguasai 92,5 juta saham atau setara sebesar 4,86%.
MGLV menggelar rights issue guna mendukung akuisisi aset artificial intelligence (AI) data center, BMAS untuk ekspansi kredit, KOTA untuk akuisisi lahan, sedangkan CBRE akan menggunakan sebagian besar dana untuk konversi utang.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai rights issue menjadi pilihan pendanaan yang relatif realistis bagi emiten yang membutuhkan modal besar, terutama untuk mengakuisisi aset yang belum menghasilkan arus kas.
“Pendanaan ekuitas jauh lebih realistis ketimbang utang berbunga yang justru akan berpotensi membebani neraca di tengah proses akuisisi,” ujar Adrian kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).
Menurut Adrian, efektivitas rights issue terhadap kinerja perusahaan sangat bergantung pada penggunaan dana. Tambahan modal harus mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan.
Untuk aksi korporasi yang berorientasi ekspansi, dampaknya terhadap kinerja kemungkinan baru terlihat dalam beberapa kuartal mendatang.
Sementara itu, pada aksi restrukturisasi neraca seperti konversi utang menjadi ekuitas, manfaat awal lebih terlihat dari perbaikan rasio keuangan dibandingkan peningkatan kapasitas bisnis.
Tonton: Rp3,6 Triliun untuk Gaji Manajer KDMP, Beban Negara Benarkah Kecil?
MGLV Incar Bisnis AI Data Center
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) berencana menerbitkan sekitar 285,7 juta saham baru untuk mendukung akuisisi aset AI data center.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai prospek industri data center masih menarik seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, cloud, AI, dan penyimpanan data.
Namun, bisnis tersebut membutuhkan investasi awal yang besar. Manfaat finansial dari aset yang diakuisisi juga belum tentu langsung terlihat.
Karena itu, kemampuan MGLV menghasilkan pendapatan, EBITDA, dan arus kas menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
“Pasar jangan hanya melihat narasi AI sebagai katalis, tetapi harus melihat kemampuan MGLV menghasilkan pendapatan, EBITDA dan arus kas dari aset yang diakuisisi,” ujar Hendra.
Jika ekspansi berjalan sesuai harapan, tambahan modal dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi MGLV. Sebaliknya, apabila monetisasi aset berlangsung lambat, pertambahan jumlah saham berpotensi menekan earnings per share (EPS).
Untuk saham MGLV, Hendra merekomendasikan strategi sell on strength dengan target sekitar Rp 13.000 per saham.
Menurut dia, cerita AI data center memang menarik untuk jangka panjang, tetapi ekspektasi pasar dan risiko eksekusi tetap tinggi.
BMAS Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit
PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) menyiapkan rights issue sebanyak 2,87 miliar saham untuk mendukung ekspansi kredit.
Hendra menilai aksi tersebut cukup masuk akal dari sisi fundamental. Tambahan modal dapat memperbesar kapasitas bank dalam menyalurkan kredit.
Meski demikian, pertumbuhan kredit tidak otomatis menghasilkan kenaikan laba. Investor perlu mencermati kualitas kredit, margin bunga bersih, biaya pencadangan, serta tingkat kredit bermasalah.
BMAS perlu membuktikan bahwa tambahan modal mampu dikonversikan menjadi pertumbuhan laba. Apabila modal meningkat tetapi laba tidak tumbuh sepadan, return on equity (ROE) berpotensi tertekan.
Hendra memberikan rekomendasi sell on strength untuk BMAS dengan target sekitar Rp 500 per saham.
Ia akan lebih positif apabila ekspansi kredit mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap laba tanpa meningkatkan risiko kredit secara berlebihan.
Tonton: Target Ekonomi 8% Makin Berat, Indonesia Harus Punya Resep Baru
KOTA Tambah Land Bank lewat Rights Issue
Berbeda dengan MGLV dan BMAS, PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) akan menggunakan rights issue untuk mendukung akuisisi lahan dan memperbesar land bank.
KOTA berencana menerbitkan 100 miliar saham baru.
Hendra menilai aksi tersebut berpotensi menjadi langkah transformasional karena dapat memperbesar basis aset dan membuka ruang pengembangan proyek dalam jangka panjang.
Namun, kepemilikan lahan dalam jumlah besar belum otomatis menghasilkan laba. Kinerja KOTA akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan mengembangkan lahan, kebutuhan modal proyek, waktu penjualan, serta margin yang dapat diperoleh.
“Investor harus memahami bahwa memiliki lahan dalam jumlah besar belum tentu langsung menghasilkan laba,” kata Hendra.
Untuk KOTA, Hendra memberikan rekomendasi spec buy dengan target sekitar Rp 240 per saham.
Menurut dia, saham tersebut memiliki potensi pertumbuhan dari penambahan land bank. Namun, risikonya juga tinggi karena keberhasilan aksi korporasi bergantung pada eksekusi pengembangan lahan.
Baca Juga: Eks-Bos MNC Group Gantikan Pemilik Sinar Mas Jadi Petinggi DSSA, Cek Profilnya
CBRE Konversi Utang Rp 858,6 Miliar
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) memiliki karakter berbeda dibandingkan tiga emiten lainnya.
CBRE berencana menerbitkan sekitar 11,8 miliar saham baru. Sebagian besar dana rights issue akan digunakan untuk konversi utang senilai Rp 858,6 miliar.
Hendra menilai aksi tersebut dapat memperbaiki struktur neraca karena utang yang dikonversi menjadi ekuitas berpotensi mengurangi tekanan kewajiban dan beban finansial.
Namun, investor perlu memperhatikan konsekuensi berupa potensi dilusi besar terhadap pemegang saham lama.
Dengan jumlah saham baru yang signifikan, investor perlu memperhitungkan kembali nilai per saham setelah rights issue, bukan hanya melihat harga saham sebelum aksi korporasi.
Dari sisi teknikal, Adrian melihat saham CBRE berpotensi mengalami rebound dengan target jangka pendek sekitar Rp 800 per saham.
Sementara itu, Hendra memberikan rekomendasi spec buy untuk CBRE dengan target sekitar Rp 815 per saham.
Ia menilai perbaikan struktur permodalan menjadi katalis positif, meski risiko dilusi tetap besar.
Tonton: Tembakau Masih Jadi Andalan, Situbondo Hadapi Dilema Regulasi
Risiko Dilusi Perlu Dicermati
Adrian mengatakan besarnya penerbitan saham baru menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Semakin besar proporsi saham baru terhadap jumlah saham lama, semakin besar pula tekanan terhadap EPS.
“Pemegang saham yang tidak ikut menyerap haknya, dampaknya lebih berat karena selain ikut merasakan tekanan EPS tersebut, persentase kepemilikan mereka juga akan terdilusi,” ujar Adrian.
Hendra menilai risiko dilusi menjadi salah satu perhatian utama pada rangkaian rights issue tersebut.
MGLV dan BMAS dinilai memiliki potensi dilusi yang relatif lebih terkendali. Sementara itu, KOTA dan CBRE menghadapi risiko lebih besar karena jumlah saham baru yang diterbitkan sangat signifikan.
Karena itu, investor perlu menghitung valuasi berdasarkan jumlah saham setelah rights issue. Indikator seperti EPS, book value per share, dan price to book value juga perlu dilihat dengan basis fully diluted.
Berikut rangkuman rekomendasi saham dari Hendra Wardana dan target teknikal CBRE dari Adrian Djie:
| Emiten | Tujuan rights issue | Rekomendasi Hendra | Target |
|---|---|---|---|
| MGLV | Akuisisi aset AI data center | Sell on strength | Rp 13.000 |
| BMAS | Ekspansi kredit | Sell on strength | Rp 500 |
| KOTA | Akuisisi lahan | Spec buy | Rp 240 |
| CBRE | Konversi utang | Spec buy | Rp 815 |
Adrian sendiri melihat saham CBRE berpotensi rebound dengan target jangka pendek sekitar Rp 800 per saham.
Baca Juga: Harga Logam Tren Melemah, Apakah Emas & Perak Perlu Dijual / Dibeli?
Pasar Sudah Antisipasi Rencana Ekspansi
Hendra menambahkan, sebagian ekspektasi terhadap rencana ekspansi tersebut kemungkinan sudah tercermin dalam harga saham, terutama pada emiten yang membawa narasi transformasi bisnis besar.
Namun, manfaat fundamentalnya tetap harus dibuktikan setelah dana rights issue benar-benar digunakan.
“Pasar saham biasanya bergerak berdasarkan ekspektasi lebih dahulu, sedangkan pertumbuhan laba datang kemudian,” pungkas Hendra.
Dengan demikian, investor tidak cukup hanya mencermati besarnya dana yang dihimpun emiten. Penggunaan dana, prospek pertumbuhan laba, potensi dilusi, serta kemampuan manajemen mengeksekusi rencana bisnis menjadi faktor penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














