Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah turun pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pasokan minyak melalui jalur alternatif di Oman.
Langkah ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, tekanan di pasar bahan bakar masih berlanjut. Harga diesel Eropa bertahan di dekat level rekor, mencerminkan ketatnya pasokan produk olahan di tengah gangguan produksi dan ekspor.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 1,69 atau 1,55% menjadi US$ 107,06 per barel pada pukul 11.28 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 2,60 atau 2,46% menjadi US$ 103,23 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Turun 2%, Dibayangi Prospek Permintaan Global yang Melemah
Penurunan ini terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari US$ 3 per barel pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan tersebut dipicu laporan penghentian sementara pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Yanbu, Arab Saudi, serta pembatalan sejumlah pengiriman minyak ke pelanggan di Eropa.
Kekhawatiran pasar kemudian mereda setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pemuatan minyak mentah kepada penyuling Asia melalui pengiriman dari kapal ke kapal (ship-to-ship) di lepas pantai Sohar, Oman.
Langkah tersebut dilakukan setelah serangan drone merusak jaringan pipa minyak Arab Saudi menuju Laut Merah.
"Perkembangan ekspor Saudi melalui kawasan Teluk menunjukkan kekhawatiran gangguan pasokan mulai mereda," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Meski demikian, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas. Data awal pelayaran menunjukkan hanya empat kapal yang melintas pada Selasa, turun dari tujuh kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 18 kapal.
Sebelum perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 1% karena Peningkatan Pasokan Meski Ada Perang AS-Iran
Namun, Macquarie menilai arus minyak mentah, kondensat dan produk olahan melalui selat tersebut masih relatif bertahan meski konflik meningkat.
Arus tersebut bahkan diperkirakan telah mencapai lebih dari 7,5 juta barel per hari sejak pertempuran kembali berlangsung pada 30 Agustus.
Macquarie juga menilai hubungan antara perkembangan di Selat Hormuz dan arus pasokan minyak kini semakin melemah.
Sementara itu, Citi memperkirakan eskalasi konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek masih akan menopang harga minyak mentah dan bahan bakar olahan.
Bank tersebut memperkirakan Selat Hormuz pada akhirnya kembali dibuka pada kuartal IV 2026, didukung upaya diplomasi regional.
Pasar Diesel Masih Ketat
Di tengah penurunan harga minyak mentah, pasar diesel justru masih menghadapi tekanan pasokan.
Harga kontrak gasoil Eropa, yang menjadi acuan harga diesel, sempat naik ke level intraday tertinggi sejak April pada Selasa dan ditutup di rekor tertinggi. Harga kemudian melemah pada perdagangan Rabu.
"Penguatan diesel mencerminkan kekurangan pasokan produk yang spesifik, di atas harga minyak mentah yang mahal," kata analis pasar Naga.com Frank Walbaum.
Menurut dia, Eropa kehilangan pasokan diesel dan bahan bakar jet dalam jumlah besar dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, ketegangan di Eropa Timur mengganggu produksi sejumlah kilang utama Rusia dan mendorong Moskow membatasi ekspor bahan bakar.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Pasca Irak Melanjutkan Ekspor Melalui Pelabuhan Ceyhan Turki
Di Amerika Serikat, harga rata-rata nasional diesel juga telah menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya.
Tekanan pasokan berpotensi berlanjut setelah pemerintah Rusia memutuskan memperpanjang pembatasan ekspor diesel bagi produsen bahan bakar hingga akhir Oktober, menurut laporan Vedomosti yang mengutip dua sumber anonim.
"Tanpa kesepakatan damai atau perbaikan situasi di Rusia, saya memperkirakan harga diesel tetap mendapat dukungan," ujar Staunovo.
Stok Minyak AS Bertambah
Dari Amerika Serikat, kenaikan persediaan minyak mentah turut menekan harga minyak pada perdagangan Rabu.
Persediaan minyak mentah AS naik 7,1 juta barel pada pekan yang berakhir 11 September, berdasarkan data American Petroleum Institute (API) yang dikutip sumber pasar.
Kenaikan tersebut jauh di atas ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS justru turun sekitar 1,6 juta barel.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Naik Tinggi, Pedagang Menimbang Risiko Pasokan
Selain minyak mentah, persediaan bensin dan produk distilat AS juga meningkat pada pekan tersebut.
Kombinasi tambahan pasokan dari jalur alternatif Saudi dan kenaikan stok minyak AS membuat tekanan terhadap harga minyak mentah mereda. Namun, ketatnya pasokan diesel menunjukkan bahwa tekanan di pasar energi belum sepenuhnya berakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














