Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pengelola restoran KFC Indonesia dan Taco Bell, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mencatatkan rugi bersih di tengah pendapatan yang naik tipis.
Dalam catatan laporan keuangannya, FAST melaporkan rugi bersih sebesar Rp 366,04 miliar di tahun 2025. Perolehan itu susut 54,05% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 796,711 miliar.
Penjualan dan pendapatan usaha FAST tercatat sebesar Rp 4,88 triliun hingga akhir tahun 2025, naik tipis 0,11% yoy dibandingkan periode sebelumnya Rp 4,87 triliun.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Tetap Loyo dan Tertahan di Rp 17.000-an, Ini Obat Perkasa
Secara rinci, pendapatan yang berasal dari segmen makanan dan minuman tercatat Rp 4,86 triliun, komisi atas penjualan konsinyasi Rp 16,91 miliar, serta jasa layanan antar Rp 2,25 miliar.
Manajemen FAST menjelaskan sejumlah upaya strategi untuk memperkuat posisi keuangan dan meningkatkan likuiditas grup, antara lain, memperkuat disiplin pengendalian biaya melalui berbagai inisiatif efisiensi pada promosi, kemasan, pengelolaan pemasok serta mengurangi ketergantungan terhadap penjualan yang didorong oleh program diskon.
Selanjutnya, manajemen akan mengoptimalkan jaringan restoran Grup untuk meningkatkan efisiensi operasional,menurunkan biaya tetap, serta mencapai skala ekonomi dan berfokus pada pemulihan margin yang berkelanjutan melalui pengelolaan biaya dan pendapatan secara disiplin.
"Lalu, meningkatkan pengelolaan modal kerja melalui penguatan pengendalian persediaan untuk meminimalkan kelebihan stok, peningkatan efisiensi rantai pasok, serta penerapan pendekatan yang disiplin terhadap belanja modal dengan memprioritaskan investasi yang bersifat esensial," tulis manajemen.
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 78.000, Waspada Ada Koreksi Jelang Keputusan The Fed
Investment Specialist Head Bahana Sekuritas Chisty Maryani mengatakan ada dua penyebab utama yang membuat kinerja laba rugi FAST bisa susut.
Pertama, pendapatan KFC yang masih naik menghasilkan surplus arus kas operasional hingga Rp200 miliar lebih. Lalu, FAST memiliki Gross Profit Margin (GPM) cukup baik sebesar 59,1%.
"Margin di atas 50% dianggap sangat sehat bagi sebuah industri," kata Chisty kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
Kedua, adanya suntikan dana sebagai modal kerja dari Salim Group sebesar Rp40 miliar serta penjualan 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) kepada PT Shankara Fortuna Nusantara dengan nilai Rp 54,44 miliar;
Untuk di sisa tahun 2026, Chisty berpendapat FAST berpotensi meraih laba mengingat tren kondisi keuangan yang membaik dan proyeksi perusahaan untuk mencetak laba bersih yang didorong serangkaian penghematan biaya, optimalisasi menu, dukungan modal kerja yang tersedia dan prospek pertumbuhan ekonomi yang masih baik.
Seiring dengan perbaikan kinerja keuangan FAST yang membaik, harga saham FAST di Bursa meningkat sekitar 20% dalam jangka 1 bulan terakhir.
Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan, Rp 17.000 Dinilai Jadi Keseimbangan Baru
Secara teknikal, Chisty menilai saham FAST mampu bertahan di atas rata-rata harganya dalam 20 hari terakhir atau di atas MA 20 sehingga secara jangka menengah masih mempunyai kecenderungan menguat.
Dalam jangka panjang saham FAST masih cenderung tertekan dengan bergerak di bawah rata-rata harganya selama 200 hari terakhir atau di bawah MA 200.
"Tapi, secara jangka pendek mulai terlihat tekanan jual mulai berkurang karena mulai membentuk lower shadow, dengan level support di Rp 280 per saham, serta level resistance Rp 400 per saham," tutup Chisty.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












