Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah.
Perlu diketahui, rupiah masih bergerak fluktuatif dan masih tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (22/3), rupiah ditutup di level Rp 17.181 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,22% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 17.143 per dolar AS.
Ada pun demikian, jika ditarik lebih jauh rupiah sempat berada pada titik terlemahnya sepanjang masa, yakni sempat ditutup di Rp 17.189 per dolar AS pada Jumat (17/4).
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 78.000, Waspada Ada Koreksi Jelang Keputusan The Fed
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, berpandangan tekanan terhadap rupiah saat ini masih didominasi oleh faktor eksternal, seperti penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik, serta sentimen risk-off global yang mendorong arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang.
Dari sisi domestik, ia menambahkan, kebutuhan stabilisasi pasar keuangan serta persepsi risiko fiskal juga turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Ada pun demikian, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 ini Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Rizal menilai langkah ini paling rasional untuk diambil dengan fokus pada stabilisasi nilai tukar.
Karena kalaupun BI mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga acuan, langkah itu memang dapat memperkuat sentimen pasar, namun berisiko menekan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik dan dinilai belum cukup untuk membawa rupiah kembali ke level Rp 16.000-an dalam waktu dekat.
“Saat ini, level Rp17.000 semakin mendekati keseimbangan baru jangka pendek, karena tekanan bukan hanya dari diferensial suku bunga, tetapi juga risk premium global dan faktor struktural eksternal,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Rizal menekankan, penguatan rupiah secara berkelanjutan membutuhkan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang kredibel. BI dinilai perlu terus menjaga stabilitas melalui intervensi di pasar dan pengelolaan likuiditas.
Baca Juga: Intip Potensi Kinerja Emiten Telekomunikasi pada Kuartal I-2026
Namun, upaya tersebut tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah. Ia menilai, pemerintah perlu memastikan disiplin fiskal tetap terjaga, terutama di tengah tekanan subsidi energi dan ketidakpastian global.
“Tanpa koordinasi kebijakan yang kuat, tekanan terhadap rupiah akan berulang dan biaya stabilisasi akan semakin mahal,” ungkapnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, rupiah pada semester I-2026 diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.900 - Rp 17.400 per dolar AS. Sementara hingga akhir tahun, rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp 16.800 - Rp 17.300 per dolar AS dengan bias melemah.
Dalam skenario dasar, rupiah akan bertahan di kisaran tersebut selama tensi global tidak memburuk. Namun, dalam skenario stres seperti konflik berkepanjangan dan harga minyak yang tetap tinggi, rupiah berpotensi bertahan di atas level Rp 17.000 dalam waktu yang lebih lama.
“Dengan kondisi saat ini, peluang kembali ke Rp16.000-an relatif terdapat timelag, dan kecil dalam jangka pendek,” tutup Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












