Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dinilai masih menjanjikan hingga sisa tahun 2026.
Tingginya permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global diperkirakan masih menjadi penopang kinerja emiten pengolahan dan ritel emas tersebut.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan fungsi emas sebagai aset safe haven diproyeksikan tetap kuat seiring masih tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Kondisi ini dinilai menjadi angin segar bagi HRTA yang memiliki bisnis terintegrasi dari pengolahan hingga ritel.
Baca Juga: Menakar Prospek Saham HRTA di Tengah Ambruknya IHSG & Rekor All Time High Harga Emas
"Dengan kapasitas produksi yang terintegrasi dan penetrasi ritel yang kuat, HRTA berada di posisi strategis untuk mengonversi tingginya harga emas domestik menjadi margin keuntungan yang optimal," ujar Nafan kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Menurut Nafan, ekspansi jaringan ritel juga akan semakin memperkuat prospek perseroan.
HRTA menargetkan penambahan 15 gerai baru pada tahun ini sehingga total gerai yang dioperasikan mencapai 100 unit, meningkat dari 85 gerai pada akhir kuartal I-2026.
Saat melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2017, HRTA baru memiliki 12 gerai.
Ia menilai penambahan gerai akan memperluas pangsa pasar domestik sekaligus meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap produk emas dan perhiasan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Analis Sarankan Diversifikasi Aset Safe Haven
Dengan karakteristik bisnis yang sangat bergantung pada jaringan distribusi, ekspansi tersebut diyakini mampu mengoptimalkan volume penjualan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Selain didukung ekspansi gerai, Nafan mengingatkan bahwa kinerja HRTA pada kuartal I-2026 juga masih mencerminkan fundamental yang solid, sehingga menjadi modal positif untuk menopang pertumbuhan hingga akhir tahun.
HRTA membukukan pendapatan sebesar Rp 20,16 triliun atau melonjak 196,96% secara tahunan (YoY).
Sementara itu, laba bersih mencapai Rp 433,49 miliar atau tumbuh 189,48% YoY.














