kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

RKAB Bayan Resources (BYAN) Akhirnya Disetujui, Kapan Dampaknya Terasa pada Kinerja?


Kamis, 24 September 2026 / 17:08 WIB
RKAB Bayan Resources (BYAN) Akhirnya Disetujui, Kapan Dampaknya Terasa pada Kinerja?
ILUSTRASI. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (Dok/BYAN)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali memperoleh kepastian operasional setelah tiga anak usahanya memperoleh persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada Kamis (24/9/2026), manajemen BYAN mengumumkan PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP) menerima persetujuan perubahan RKAB pada 23 September 2026.

Sebelumnya, tiga anak usaha BYAN tersebut sempat menyampaikan kondisi kahar atau force majeure terkait kewajiban pemenuhan pasokan batubara berdasarkan coal supply agreement kepada para pelanggan.

Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp 17.916, Tekanan dari Eksternal Makin Kuat

Dengan persetujuan tersebut, ketiga anak usaha BYAN dapat kembali mempersiapkan kegiatan operasional pertambangan batu bara, termasuk melaksanakan kegiatan pengangkutan dan penjualan batubara kepada pelanggan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan tambahan kuota RKAB belum otomatis berubah menjadi pendapatan. BYAN tetap harus memastikan kesiapan produksi, pengangkutan, pembeli, harga jual, belanja modal, serta rencana operasional.

Liza bilang  investor perlu memantau perubahan kuota tersebut hingga menjadi produksi dan pengiriman aktual. Setelah itu, kata dia, dampaknya terhadap harga jual, margin dan EBITDA akan menjadi perhatian utama.

“RKAB kan bisa dapat tambahan 15 sampai 20 juta ton. Ini masih dalam bentuk kuota. Kuota tersebut harus berubah menjadi output yang benar-benar diproduksi dan dikirim,” jelasnya dalam paparan daring, Rabu (23/9). 

Di sisi lain, persetujuan RKAB muncul berdekatan dengan rencana transaksi Jhonlin Baratama untuk mengambil sekitar 30% saham BYAN milik Dato Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Liza menilai kedekatan waktu antara kedua peristiwa tersebut wajar memicu perhatian pasar. Namun, Kementerian ESDM sebelumnya telah menyatakan persetujuan RKAB tidak berkaitan dengan transaksi Jhonlin Baratama dan BYAN.

“Waktunya memang menarik dan pas, tetapi jangan melompat ke kesimpulan. Yang penting sekarang adalah melihat data dan fakta setelah persetujuan RKAB tersebut,” kata Liza.

Baca Juga: Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%, Modal Asing & BI Rate Tahan Tekanan SBN

Dari sisi transaksi saham, Kiwoom menilai harga pembelian 30% saham BYAN menjadi salah satu informasi penting yang masih dinantikan pasar. Harga transaksi tersebut hingga kini belum diumumkan.

Pasalnya, harga pembelian akan menentukan apakah Jhonlin Baratama membayar premi strategis, membeli di sekitar harga pasar, atau memperoleh diskon besar dibandingkan harga perdagangan BYAN.

Selain harga transaksi, struktur pengendalian setelah penyelesaian transaksi juga menjadi perhatian. Porsi kepemilikan 30% belum otomatis menjelaskan siapa yang akan mengendalikan perusahaan setelah transaksi selesai.

“Porsi saham saja belum menjawab semuanya. Kita perlu melihat pengendali setelah closing, komposisi board, shareholders agreement, dan apakah ada kewajiban mandatory tender offer,” ujar Liza.

Dari sisi fundamental, Liza menilai kondisi keuangan BYAN tidak menunjukkan indikasi perusahaan sedang menghadapi tekanan finansial. Pada semester pertama 2026, pendapatan BYAN tumbuh 7,3%, sedangkan laba bersih meningkat 17,5%.

Rasio utang terhadap EBITDA BYAN juga masih berada di bawah 0,5 kali. Dus, menurut Liza, transaksi pelepasan saham tersebut lebih relevan dicermati dari sisi kepastian produksi dan struktur kepemilikan.

Dengan demikian, investor masih perlu menunggu empat indikator utama setelah persetujuan RKAB, yakni harga transaksi saham, struktur pengendalian, realisasi produksi dan pengiriman batu bara, serta bukti konkret sinergi Jhonlin dengan BYAN.

Liza menilai prospek BYAN saat ini memang lebih kuat dibandingkan pekan sebelumnya karena kepastian transaksi kepemilikan dan RKAB mulai terbentuk. Namun, sejumlah risiko belum sepenuhnya hilang.

Pada akhir perdagangan Kamis (24/9), BYAN menguat 0,61% atau naik 75 poin ke level Rp 12.375 per saham. Dalam sepekan terakhir, BYAN sudah menguat 9,03%. Meski begitu, BYAN masih anjlok 20,67% dalam sebulan terakhir. 

Baca Juga: Dolar AS Makin Perkasa, Won dan Yuan Masih Menarik Dicermati

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×