kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Risiko Berkurang, Harga Minyak Tertekan


Jumat, 10 April 2026 / 18:59 WIB
Risiko Berkurang, Harga Minyak Tertekan
ILUSTRASI. Harga minyak (REUTERS/Christian Hartmann)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia tertekan tajam dalam sepekan terakhir.  Melansir Trading Economics pukul 17.00 WIB, Jumat (10/4/2026), harga minyak mentah WTI berada di level US$ 98,8 atau menurun 12,2% dalam sepekan. Adapun harga minyak Brent di level US$ 96,6% atau turun 12,0% seminggu terakhir.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai, koreksi tajam harga minyak ini merupakan respons pasar terhadap aksi pengurangan risiko (de-risking) di tengah dinamika geopolitik yang tak terduga.

Menurut dia, kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang mengubah persepsi pasar. Kesepakatan ini dinilai sebagai pintu awal menuju normalisasi aliran minyak global.

“Pasar melihat ini sebagai game changer. Ada harapan aliran minyak kembali normal sehingga tekanan harga berkurang,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: Minyak WTI dan Brent Turun, Ketidakpastian Pasar Masih Membayangi

Di sisi lain, kata Sutopo, penurunan harga minyak juga dipicu faktor teknikal. Kenaikan harga sebelumnya dinilai sudah berada di area jenuh beli (overbought), sehingga ketika muncul sentimen de-eskalasi, pelaku pasar langsung melakukan aksi ambil untung (profit taking) secara masif.

Meski demikian, konflik di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Serangan di Lebanon serta dinamika di Selat Hormuz masih menjadi perhatian, namun pasar cenderung menilai langkah-langkah terbaru AS sebagai upaya menekan biaya energi, bukan memperluas konflik.

Ke depan, Sutopo melihat, harga minyak saat ini tengah menguji area support psikologis. Jika pembicaraan lanjutan antara AS, Israel, dan Lebanon menghasilkan kerangka kerja yang lebih stabil, harga minyak berpotensi melanjutkan penurunan dalam jangka pendek.

“Minyak WTI berpotensi turun ke kisaran US$ 88–US$ 90 per barel,” prediksi dia.

Namun, menurut Sutopo, tren penurunan harga minyak ini kemungkinan hanya bersifat sementara. Pasalnya, ada faktor penahan dari sisi pasokan, salah satunya penurunan kapasitas produksi Arab Saudi sebesar 600.000 barel per hari.

Selain itu, pemulihan infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak yang belum sepenuhnya normal juga akan membuat harga sulit kembali ke level sebelum konflik dalam waktu dekat.

“Dalam jangka menengah, harga akan cenderung konsolidasi kuat dan tidak mudah jatuh ke level pra-konflik,” imbuhnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Begini Strategi Investasi Komoditas dan Saham Energi

Dalam kondisi volatilitas tinggi seperti saat ini, Sutopo menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dan mengedepankan strategi wait and see, setidaknya hingga kejelasan arah pasar pada pekan depan.

Ia mengingatkan, potensi rebound harga tanpa didukung fundamental yang kuat berisiko menjadi jebakan kenaikan semu (bull trap).

Untuk itu, investor disarankan melakukan diversifikasi portofolio ke aset safe haven jika ketegangan diplomatik tidak kunjung mereda. 

Selain itu, disiplin dalam manajemen risiko juga menjadi kunci, termasuk penggunaan batas kerugian (stop-loss) dan menghindari penggunaan leverage berlebihan.

“Volatilitas saat ini sangat tinggi. Satu pernyataan politik saja bisa langsung membalikkan arah harga dalam hitungan menit,” imbuh Sutopo.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 12% Efek Gencatan Senjata, Tapi Ancaman Naik Masih Mengintai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×