Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Volatilitas harga minyak dunia yang masih tinggi di tengah gencatan senjata sementara membuat investor perlu lebih selektif dalam menyusun strategi investasi.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase waspada tinggi (high alert), mengingat kesepakatan geopolitik yang ada hanya bersifat sementara dengan durasi sekitar 14 hari.
Melansir Trading Economics pukul 13.00 WIB, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 98,5 atau menurun 12,3% dalam sepekan. Ada pun minyak Brent menjadi US$ 96,8% atau turun 11,8% seminggu terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 12% Efek Gencatan Senjata, Tapi Ancaman Naik Masih Mengintai
“Meski harga minyak sudah turun tajam, pasar masih belum benar-benar stabil. Risiko perubahan arah masih sangat besar tergantung perkembangan negosiasi,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (10/4/2026).
Dalam jangka pendek, Wahyu melihat peluang technical rebound pada harga minyak, setelah koreksi tajam yang terjadi dalam waktu singkat.
Untuk minyak Brent, ia menyebut area US$ 90–US$ 92 per barel sebagai level support yang cukup kuat.
Maka, kata Wahyu investor jangka pendek dapat memanfaatkan strategi buy on weakness dengan target harga di kisaran US$ 98 - US$ 100 per barel. Namun, Wahyu menekankan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko.
“Gunakan stop loss ketat di bawah US$ 89, karena arah pasar bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika geopolitik,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pelaku pasar tidak terburu-buru mengambil posisi atau akumulasi dalam porsi besar, terutama sebelum ada kepastian hasil negosiasi lanjutan.
“Jangan panic selling, tapi juga hindari mengejar penurunan (chasing the drop) tanpa konfirmasi yang jelas,” tambah Wahyu.
Di pasar saham, strategi investasi dapat disesuaikan dengan karakteristik per sektor. Untuk saham energi hulu seperti MEDC dan ENRG, koreksi harga minyak saat ini dinilai bisa menjadi peluang akumulasi bertahap, dengan asumsi harga minyak tidak kembali ke level sebelum konflik.
Sementara itu, saham sektor hilir dan distribusi seperti AKRA justru berpotensi diuntungkan dari penurunan harga minyak, karena beban biaya dapat lebih terkendali dan margin tetap terjaga.
Baca Juga: Sesi Siang Jumat (10/4), Rupiah Melemah ke Rp 17.110 per Dolar AS
Selain itu, Wahyu melihat peluang rotasi sektor jika tensi geopolitik terus mereda. Investor berpotensi beralih dari sektor energi ke sektor yang lebih sensitif terhadap suku bunga dan inflasi, seperti perbankan dan barang konsumsi.
Dari sisi lindung nilai, emas masih menjadi instrumen yang menarik untuk dicermati. Wahyu menilai, pelemahan harga minyak dapat membuka ruang penguatan emas seiring meredanya tekanan inflasi.
“Jika harga emas turun ke area US$ 4.000 - US$ 4.800, ini bisa menjadi area akumulasi. Namun jika sudah naik ke atas US$ 5.000, investor bisa mulai mengamankan posisi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) juga patut diperhatikan. Pelemahan harga minyak umumnya diikuti penurunan permintaan aset safe haven, yang dapat berdampak pada pergerakan nilai tukar.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, Wahyu menyarankan investor untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Diversifikasi portofolio dan pemantauan ketat terhadap perkembangan geopolitik menjadi kunci utama.
Investor juga disarankan mencermati perkembangan negosiasi hingga batas akhir masa gencatan senjata pada 22 April 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













