kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Rebound komoditas mengangkat batubara sementara


Jumat, 17 Juni 2016 / 18:39 WIB
Rebound komoditas mengangkat batubara sementara


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Batubara berpeluang menguat sementara ditopang oleh rebound harga komoditas setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga. Namun harapan kenaikan harga tahun ini tipis di tengah perlambatan ekonomi global dan isu lingkungan.

Mengutip Bloomberg, Kamis (16/16) harga batubara kontrak pengiriman Juli 2016 di ICE Futures Exchange menguat 0,7% ke level US$ 53,4 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Sementara dalam sepekan terakhir, harga batubara terangkat 0,47%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, harga batubara sempat mencapai level tertinggi tahun ini yakni di US$ 55,75 per metrik ton pada pekan lalu seiring dengan naiknya harga minyak dunia. Kini, saat harga minyak turun, batubara pun ikut terseret.

Dalam jangka pendek, batubara kemungkinan akan menguat setelah The Fed menahan tingkat suku bunga di level 0,5%. Namun, kenaikan harga tidak bisa bertahan lama menjelang referendum Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tanggal 23 Juni mendatang.

Peluang batubara menguat tahun ini pun menurut Ibrahim nyaris nihil. "Pasar batubara global saat ini masih dalam kondisi oversupply," ujar Ibrahim.

China sebagai salah satu produsen batubara terbesar di dunia terus memangkas produksi lantaran ingin berganti ke gas alam sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Apalagi, dengan harga gas alam yang saat ini cukup murah di kisaran US$ 2 per mmbtu. "Jika harga gas alam di atas US$ 4 per mmbtu, harga batubara mungkin akan naik," tutur Ibrahim.

Murahnya harga gas alam juga menggeser pangsa pasar batubara di wilayah Amerika Serikat (AS). Analis Bloomberg Intelligence, Kit Konolige memaparkan, batubara sebagai bahan bakar murah kini mengalami erosi pangsa pasar di AS.

Kekhawatiran tentang emisi gas rumah kaca di kawasan AS serta polusi asap cukup berat di China mendorong revisi peran batubara di masa depan.

Penggunaan batubara sebagai bahan bakar di AS jatuh lebih cepat dari perkiraan. Pada bulan Maret lalu, Energy Information Administration (EIA) menyatakan jika di tahun 2016 gas alam akan melampaui batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk pertama kalinya.

Pernyataan tersebut merupakan revisi dari pernyataan sebelumnya, di mana EIA memprediksi batubara akan tetap menjadi bahan bakar utama di tahun 2017.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×