Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto
Apalagi, dengan harga gas alam yang saat ini cukup murah di kisaran US$ 2 per mmbtu. "Jika harga gas alam di atas US$ 4 per mmbtu, harga batubara mungkin akan naik," tutur Ibrahim.
Murahnya harga gas alam juga menggeser pangsa pasar batubara di wilayah Amerika Serikat (AS). Analis Bloomberg Intelligence, Kit Konolige memaparkan, batubara sebagai bahan bakar murah kini mengalami erosi pangsa pasar di AS.
Kekhawatiran tentang emisi gas rumah kaca di kawasan AS serta polusi asap cukup berat di China mendorong revisi peran batubara di masa depan.
Penggunaan batubara sebagai bahan bakar di AS jatuh lebih cepat dari perkiraan. Pada bulan Maret lalu, Energy Information Administration (EIA) menyatakan jika di tahun 2016 gas alam akan melampaui batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk pertama kalinya.
Pernyataan tersebut merupakan revisi dari pernyataan sebelumnya, di mana EIA memprediksi batubara akan tetap menjadi bahan bakar utama di tahun 2017.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













