Reporter: Namira Daufina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Harga batubara kembali tergores. Performanya yang sempat kinclong beberapa waktu lalu terhapus fakta fundamental yang masih memberatkan komoditas energi ini.
Mengutip Bloomberg, Jumat (10/6) harga batubara kontrak pengiriman Juli 2016 di ICE Futures Exchange merosot 1,97% ke level US$ 52,10 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga ini pun sudah tergerus 3,69% dalam sepekan terakhir.
Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures menyampaikan bahwa pergerakan harga saat ini masih sangat wajar. Setelah pekan lalu sempat menyentuh level tertingginya sejak Agustus 2015 lalu di US$ 55,75 per metrik ton, harga terpapar koreksi akibat aksi profit taking.
“Pergerakan harganya sudah menembus level US$ 50 per metrik ton, sudah terhitung tinggi jika berkaca dari fundamental yang masih membebani,” ujar Wahyu. Salah satu katalis negatif yang dominan menyeret harga adalah faktor permintaan yang kering.
Secara global dilaporkan oleh Mjunction Services, impor batubara turun 19,2% menjadi 16,38 juta ton dibanding bulan sebelumnya. Angka ini pun jauh di bawah impor batubara Mei 2015 lalu di level 20,29 juta ton.
Hal ini disebabkan oleh penurunan kebutuhan dan permintaan batubara sebagai energi pembangkit. Belum lagi pemangkasan yang dilakukan oleh para produsen turut membuat negara-negara konsumen memilih menggunakan produksi dalam negeri daripada membeli secara global.
“Hanya saja selama harga komoditas membaik akibat koreksi USD menyusul pertemuan FOMC pekan ini, batubara bisa terus pertahankan posisi di atas US$ 50 per barel,” duga Wahyu. Walau ia tidak bisa memungkiri tekanan koreksi tetap berpeluang terjadi pada Senin (13/6).
Beban koreksi bisa datang dari koreksi yang masih mengintai harga minyak mentah. Ketika harga minyak koreksi lagi, batubara dan gas alam pun akan mengalami hal yang sama. “Kalau harga gas alam dan minyak rendah, jelas pelaku pasar memilih menggunakan keduanya daripada batubara yang tersandung kasus tidak ramah lingkungan,” papar Wahyu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













