Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil riil (real yield) pasar keuangan Indonesia yang mendekati 4% tetap menawarkan titik masuk (entry point) menarik bagi investor asing jangka panjang, meski volatilitas nilai tukar rupiah menuntut penyesuaian premi risiko yang lebih tinggi.
Di tengah penyesuaian pasar global, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor menengah hingga panjang saat ini bertahan di kisaran 7,0% hingga 7,2%, seperti tenor 10 tahun yang berada di level 7,16%.
Dengan laju inflasi domestik yang terjaga di sekitar 3%, Indonesia mampu menawarkan imbal hasil riil mendekati 4% yang dinilai sangat kompetitif dibandingkan dengan negara-negara berkembang (emerging markets) sekelas investment grade lainnya.
Kendati imbal hasil riil cukup solid, tantangan utama bagi investor asing terletak pada risiko nilai tukar, terutama saat rupiah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pergerakan kurs ini berpotensi menggerus margin keuntungan jika tidak disertai strategi lindung nilai (hedging).
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Kupon SBR015, Lebih Tinggi dari SBR014
Alhasil, arus modal yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat ini didominasi oleh investor berjangka panjang yang tahan terhadap volatilitas.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan yield SBN ke 7,16% serta pergerakan Credit Default Swap (CDS) 10 tahun ke level 138,83 basis poin (bps) murni mencerminkan penyesuaian harga atas kenaikan suku bunga global dan lonjakan harga energi, bukan indikasi krisis makroekonomi.
"Pada level ini, investor justru memperoleh titik masuk yang lebih menarik, selama risiko nilai tukar masih dapat dikelola," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Data menunjukkan kepemilikan asing di SBN berada di kisaran Rp 908 triliun per 24 September 2026. Kendati demikian, laju arus masuk portofolio bersih mulai melambat, yakni hanya tercatat sekitar US$ 400 juta sepanjang kuartal III hingga 21 September 2026.
Baca Juga: SR025 Sukses Himpun Rp 29,7 T, Selanjutnya 2 SBN Ritel Akan Terbit, Kupon Makin Naik?
Di sisi lain, mulai terlihat rotasi alokasi dana investor asing dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kembali ke SBN bertenor lebih panjang.
Penempatan dana yang selektif ini membuktikan minat pemodal internasional tetap terjaga.
Yusuf menambahkan, potensi tekanan baru yang patut diwaspadai pasar adalah jika indikator risiko CDS menembus level 160 bps dan rupiah melemah berlanjut ke rentang Rp 18.200 hingga Rp 18.500 per dolar AS.
"Selama kombinasi itu belum terjadi, kenaikan yield lebih tepat dilihat sebagai penyesuaian premi risiko daripada sinyal keluarnya modal secara besar-besaran," kata Yusuf.
Ke depan, arus modal asing diperkirakan berlanjut secara bertahap dengan syarat The Fed tidak menaikkan suku bunga lebih dari satu kali lagi, harga minyak dunia mereda, dan rupiah berfluktuasi stabil di bawah Rp 18.000 per dolar AS.
Risiko gejolak eksternal juga diminimalisasi oleh solidnya basis investor domestik.
Permintaan konsisten dari perbankan, perusahaan asuransi, dana pensiun, serta operasi moneter Bank Indonesia (BI) siap menjadi jaring pengaman utama yang menjaga stabilitas harga SBN dari potensi volatilitas arus modal asing.
Baca Juga: Yield US Treasury Naik, Bagaimana Efeknya ke Pasar SBN?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














