Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat pemulihan kinerja pada Semester I-2026, ditopang kenaikan harga nikel dan perbaikan operasional.
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, pendapatan INCO naik 27% secara tahunan menjadi US$ 543 juta. Sejalan dengan itu, EBITDA melonjak 113% secara year on year (yoy) menjadi US$196 juta, sementara laba bersih melesat 313% YoY menjadi US$104 juta.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai perbaikan ini terutama didorong oleh kenaikan harga nikel meski volume produksi sempat tertekan.
Baca Juga: Cinema XXI (CNMA) Raup Pendapatan Rp 2,6 Triliun, Penonton Naik pada Semester I-2026
Secara kuartalan, kinerja INCO juga menunjukkan tren positif. Pada kuartal II-2026, pendapatan tumbuh 15% secara kuartalan (QoQ) menjadi US$290 juta. EBITDA meningkat 45% QoQ menjadi US$116 juta, sedangkan laba bersih naik 39% QoQ menjadi US$61 juta.
Dari sisi operasional, produksi nikel matte mencapai 29.800 ton pada Semester I-2026, turun 16% YoY akibat program pembangunan ulang Furnace #3. Namun, setelah proyek tersebut rampung, produksi mulai pulih di kuartal II-2026 dengan kenaikan 19% QoQ menjadi 16.200 ton.
Sementara itu, penjualan nikel matte relatif stabil di level 13.900 ton, naik tipis 1,5% QoQ.
Kenaikan harga nikel menjadi katalis utama kinerja. Harga jual rata-rata nikel matte terealisasi naik 21% YoY menjadi US$14.491 per ton pada Semester I-2026. Pada kuartal II-2026, harga tersebut meningkat 4% QoQ menjadi US$14.765 per ton.
Selain itu, efisiensi biaya juga mulai terlihat. Biaya tunai (cash cost) nikel matte turun menjadi US$10.005 per ton pada kuartal II-2026, dibandingkan US$10.382 per ton pada kuartal sebelumnya.
“Penurunan biaya ini menunjukkan kemampuan manajemen menjaga disiplin operasional di tengah kenaikan harga energi,” tulis Sukarno dalam risetnya yang dikutip Kontan, Kamis (30/7/2026).
Dari sisi ekspansi, proyek pertumbuhan INCO terus menunjukkan perkembangan. Penjualan bijih saprolit di Bahodopi mencapai 1,96 juta wet metric ton (wmt) pada Semester I-2026, dengan kenaikan 21% QoQ pada kuartal II menjadi 1,07 juta wmt.
Sementara itu, proyek Pomalaa mencatat lonjakan signifikan dengan penjualan mencapai 496.000 wmt pada kuartal II-2026, naik tajam dari 89.000 wmt pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Kamis (30/7), Microsoft Redakan Kekhawatiran Belanja AI
Kiwoom menilai kuartal II-2026 menjadi titik balik penting bagi INCO, seiring pemulihan produksi pasca rampungnya pembangunan ulang furnace.
Ke depan, INCO diperkirakan akan diuntungkan oleh peningkatan utilisasi produksi pada Semester II-2026, percepatan proyek Bahodopi dan Pomalaa, serta pengembangan proyek hilirisasi HPAL.
“Kombinasi faktor tersebut berpotensi menopang pertumbuhan kinerja dan memperkuat posisi INCO dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik,” tutup Sukarno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














