kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Prospek Emiten Rumah Sakit Masih Cerah Semester II-2026, Simak Rekomendasinya


Jumat, 03 Juli 2026 / 16:22 WIB
Prospek Emiten Rumah Sakit Masih Cerah Semester II-2026, Simak Rekomendasinya
ILUSTRASI. Prospek emiten rumah sakit cerah, tapi pertumbuhan selektif. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten rumah sakit pada semester II-2026 diperkirakan masih tetap cerah, meski laju pertumbuhannya akan berlangsung lebih selektif seiring adanya perbedaan fundamental dan strategi bisnis di masing-masing perusahaan.

Permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat, ekspansi layanan spesialis, hingga bertambahnya pasien non-BPJS menjadi penopang utama kinerja sektor ini.

Di sisi lain, investor juga perlu lebih cermat dalam memilih emiten karena karakteristik pertumbuhan dan profitabilitas setiap perusahaan rumah sakit mulai menunjukkan perbedaan yang semakin jelas.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, sektor rumah sakit masih memiliki prospek yang positif pada paruh kedua tahun ini, meskipun tidak semua emiten akan mencatatkan pertumbuhan yang sama.

“Prospek sektor rumah sakit pada semester II-2026 masih relatif positif, didukung meningkatnya permintaan layanan kesehatan, pertumbuhan pasien non-BPJS, serta ekspansi layanan spesialis. Namun, pertumbuhan akan lebih selektif,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis pada Jumat (3/7), Sentimen Global Masih Membayangi

Menurut Azis, emiten yang memiliki dominasi pasien swasta, jaringan rumah sakit yang telah matang, serta mampu menjaga efisiensi operasional berpotensi mencatatkan pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan kompetitornya.

Ia menilai terdapat perbedaan karakteristik fundamental pada sejumlah emiten rumah sakit besar, seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).

Azis menjelaskan, MIKA masih menjadi emiten dengan profitabilitas paling kuat berkat tingginya kontribusi pasien swasta serta efisiensi operasional yang terjaga.

Sementara itu, SILO dinilai memiliki prospek pertumbuhan menarik melalui pengembangan layanan spesialis dan digitalisasi layanan kesehatan, meskipun tingkat margin perseroan masih berada di bawah MIKA.

Adapun HEAL mengandalkan ekspansi jaringan rumah sakit dan peningkatan utilisasi fasilitas yang dimiliki. Di sisi lain, SRAJ masih berada dalam fase turnaround sehingga memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi, tetapi juga disertai tingkat risiko yang lebih besar.

“MIKA masih menjadi emiten dengan margin dan efisiensi operasional terbaik. Di sisi lain, SILO dan HEAL menawarkan pertumbuhan yang lebih menarik melalui ekspansi kapasitas dan pengembangan layanan,” jelasnya.

Selain strategi ekspansi, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) juga menjadi indikator operasional yang sangat diperhatikan pelaku pasar. Pasalnya, semakin tinggi BOR umumnya akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan efisiensi rumah sakit.

Meski demikian, Azis menegaskan bahwa peningkatan BOR saja belum cukup untuk mendongkrak profitabilitas apabila tidak diiringi peningkatan layanan dengan margin yang lebih tinggi.

“Kenaikan BOR akan lebih berdampak positif apabila disertai peningkatan layanan spesialis dengan margin tinggi serta pengendalian biaya,” imbuhnya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand. Menurutnya, sektor rumah sakit masih tergolong defensif dan prospektif, meskipun pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.

“Katalis utama berasal dari musim pancaroba yang meningkatkan kunjungan pasien, normalisasi iuran BPJS pasca implementasi KRIS, serta penetrasi layanan subspesialitas bermargin tinggi,” ujarnya.

Baca Juga: IHSG Menguat 2,28% ke 5.875 pada Jumat (3/7), ISAT, AMMN, BBTN Top Gainers LQ45

Abida menilai perbedaan kinerja antar emiten akan semakin terlihat, terutama dari komposisi pasien BPJS dan non-BPJS yang dimiliki masing-masing perusahaan.

“Emiten yang agresif meningkatkan porsi non-BPJS menikmati margin lebih tinggi, karena tarif pasien swasta bisa mencapai 35%-40% dibanding BPJS sekitar 15%,” jelas Abida.

Selain komposisi pasien, efisiensi operasional, lokasi rumah sakit baru, serta kecepatan peningkatan tingkat okupansi juga akan menjadi faktor penting yang membedakan performa emiten rumah sakit sepanjang tahun ini.

Secara keseluruhan, kinerja emiten rumah sakit diperkirakan masih akan bertumbuh hingga akhir 2026 seiring meningkatnya volume pasien dan mulai optimalnya kontribusi rumah sakit baru yang telah beroperasi.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi kenaikan biaya tenaga medis dan biaya operasional yang dapat memberikan tekanan terhadap margin keuntungan perusahaan.

Untuk pilihan investasi, Kiwoom Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dengan target harga Rp1.975 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×