kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Kinerja Emiten Rumah Sakit Masih Tumbuh, Profitabilitas Jadi Penentu Utama


Minggu, 14 Juni 2026 / 15:03 WIB
Kinerja Emiten Rumah Sakit Masih Tumbuh, Profitabilitas Jadi Penentu Utama
ILUSTRASI. Prospek emiten rumah sakit swasta disebut lebih cerah di Q3-2026. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten rumah sakit diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III-2026. Namun, prospek sektor ini dinilai semakin terpolarisasi antara rumah sakit yang mengandalkan pasien swasta dengan rumah sakit yang memiliki eksposur besar terhadap peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai fokus investor kini mulai bergeser. Jika dalam beberapa tahun terakhir perhatian pasar lebih tertuju pada pertumbuhan volume pasien, kini kemampuan emiten menjaga profitabilitas dan margin dinilai menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.

Menurut Brigita, rumah sakit yang memiliki eksposur besar terhadap pasien swasta serta layanan dengan tingkat kompleksitas tinggi berada pada posisi yang lebih menguntungkan. Segmen tersebut memungkinkan peningkatan revenue intensity sekaligus memberikan ruang yang lebih fleksibel untuk melakukan penyesuaian tarif layanan.

Di sisi lain, rumah sakit yang masih bergantung pada pasien JKN diperkirakan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan volume pasien yang solid. Namun, tantangan utamanya adalah memulihkan profitabilitas setelah tertekan oleh kenaikan biaya tenaga kerja, obat-obatan, dan biaya operasional yang mulai terlihat sejak kuartal I-2026.

"Secara keseluruhan kami masih melihat sektor rumah sakit menarik. Namun kualitas pertumbuhan laba akan menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan sekadar pertumbuhan jumlah pasien," ujar Brigita kepada Kontan, Jumat (14/6/2026).

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas Senin (15/6), Investor Perlu Cermati Sentimen Ini

Tekanan Biaya Jadi Tantangan Semester II-2026

Brigita menilai kombinasi kenaikan biaya medis dan perlambatan pertumbuhan pendapatan menjadi tantangan utama sektor rumah sakit pada semester II-2026.

Tekanan biaya berasal dari meningkatnya harga obat dan alat kesehatan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya dokter spesialis dan tenaga medis, serta berkurangnya diskon dari pemasok yang selama ini membantu menjaga margin perusahaan.

Kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena negative operating leverage, yakni ketika pertumbuhan biaya berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Gejala ini mulai terlihat pada sejumlah emiten rumah sakit yang mencatatkan penurunan laba meskipun pendapatannya masih tumbuh positif.

Karena itu, kemampuan menjaga efisiensi operasional diperkirakan menjadi pembeda utama kinerja emiten rumah sakit sepanjang sisa tahun 2026.

Empat Sentimen Penting bagi Investor

Brigita mengungkapkan terdapat empat sentimen utama yang perlu dicermati investor dalam memantau prospek sektor rumah sakit hingga akhir 2026.

Pertama, pergerakan nilai tukar rupiah yang akan menentukan besarnya tekanan biaya obat dan alat kesehatan impor.

Kedua, perkembangan kebijakan BPJS Kesehatan, termasuk implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) serta potensi perubahan tarif INA-CBGs yang akan berpengaruh langsung terhadap profitabilitas rumah sakit dengan eksposur JKN yang tinggi.

Baca Juga: IHSG Diramal Sideways di Perdagangan 15-19 Juni 2026, Ini Sederet Sentimennya

Ketiga, tren pertumbuhan pasien swasta yang saat ini menjadi sumber utama peningkatan margin industri rumah sakit.

Keempat, kemampuan rumah sakit meningkatkan kontribusi layanan spesialis yang memiliki revenue intensity lebih tinggi dibandingkan layanan umum.

Strategi Bisnis Bergantung pada Segmen Pasien

Dari sisi strategi bisnis, kemampuan rumah sakit meneruskan kenaikan biaya kepada pasien dinilai sangat bergantung pada segmen pasar yang dilayani masing-masing emiten.

Brigita menjelaskan bahwa rumah sakit yang mayoritas pasiennya berasal dari segmen swasta dan asuransi memiliki pricing power yang lebih kuat. Dengan demikian, penyesuaian tarif dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengganggu permintaan secara signifikan.

Sebagai contoh, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) pada kuartal I-2026 berhasil meningkatkan revenue intensity sekaligus memperbaiki gross margin meskipun menghadapi tekanan biaya operasional.

Sebaliknya, rumah sakit dengan porsi pasien JKN yang besar memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menaikkan tarif karena tarif layanan telah ditetapkan pemerintah melalui skema INA-CBGs.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Rumah Senin (15/6): MIKA, HEAL, atau SILO yang Paling Menarik?

Dalam kondisi tersebut, strategi yang lebih realistis adalah meningkatkan efisiensi operasional serta mengoptimalkan bauran layanan agar profitabilitas tetap terjaga, dibandingkan mengandalkan kenaikan tarif.

Rekomendasi Saham Emiten Rumah Sakit

Sejumlah analis masih memberikan rekomendasi positif terhadap saham-saham sektor rumah sakit.

Analis ekuitas OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, merekomendasikan buy untuk Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA) dengan target harga Rp 2.500 per saham.

Sementara itu, Praktisi Pasar Modal sekaligus Pendiri WH-Project, William Hartanto, memberikan rekomendasi buy untuk Medikaloka Hermina (HEAL) dengan target harga Rp 920 hingga Rp 1.000 per saham.

Adapun Arvin Lienardi, analis Bahana Sekuritas, juga merekomendasikan buy untuk Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dengan target harga Rp 3.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×