Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja emiten konstruksi hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan, seiring pelemahan rupiah yang mendorong kenaikan harga bahan bangunan.
Data Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menunjukkan margin kontraktor yang biasanya berada di kisaran 10% kini semakin tertekan. Kondisi ini diperburuk oleh perubahan skema pembayaran dari supplier yang mulai meminta pembayaran tunai.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, tekanan biaya material akibat pelemahan rupiah menjadi tantangan utama bagi sektor ini, terutama pada proyek dengan skema lump sum.
Baca Juga: PTPP Kantongi Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
“Kami menilai prospek sektor konstruksi masih menantang hingga akhir 2026. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya material impor dan menekan margin, terutama pada proyek lump sum,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Meski demikian, ia menilai emiten dengan backlog berkualitas, posisi kas kuat, serta proyek dengan mekanisme eskalasi harga masih berpeluang menjaga kinerja.
Menurutnya, strategi price adjustment dan penghindaran kontrak lump sum cukup efektif untuk meredam tekanan margin.
“Price adjustment membantu mengalihkan sebagian kenaikan biaya kepada pemberi kerja, sementara pengurangan kontrak lump sum membatasi risiko kenaikan biaya material,” jelasnya.Namun, efektivitas strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan negosiasi dan skema kontrak masing-masing emiten.
Di sisi lain, perubahan skema pembayaran supplier menjadi tunai dinilai dapat menekan likuiditas perusahaan.
“Hal ini meningkatkan kebutuhan modal kerja dan berpotensi menekan arus kas, terutama bagi emiten dengan likuiditas terbatas atau leverage tinggi,” tambahnya.
Sejalan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai tekanan terhadap sektor konstruksi juga dipengaruhi oleh faktor global.
Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda menjaga harga minyak tetap tinggi, sehingga berpotensi mendorong inflasi global dan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Baca Juga: Sumber Global (SGER) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 92 Miliar
“Pelemahan rupiah akibat kondisi tersebut semakin membebani emiten konstruksi yang masih bergantung pada impor bahan baku maupun peralatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan juga menjadi tantangan tersendiri karena sektor konstruksi bersifat padat modal dan masih bergantung pada pembiayaan utang.
Meski demikian, Imam menilai strategi price adjustment cukup efektif dalam menjaga profitabilitas.
“Melalui skema ini, sebagian kenaikan biaya dapat dikompensasi sehingga margin proyek lebih terjaga,” jelasnya.
Dari sisi emiten, ia menilai PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) sebagai salah satu yang memiliki fundamental kuat.
“TOTL memiliki arus kas operasional yang konsisten positif, posisi kas memadai, serta tingkat utang yang sangat rendah,” ungkapnya.
Selain itu, fokus pada proyek swasta dinilai memberikan fleksibilitas lebih dalam pengendalian biaya dan penyesuaian harga, sehingga mampu menjaga margin di tengah kenaikan harga material.
Senada, Sukarno juga merekomendasikan beberapa saham sektor konstruksi dengan fundamental yang relatif kuat, seperti TOTL, NRCA, dan SSIA.
Ia menilai ketiga emiten tersebut memiliki neraca yang lebih sehat serta eksposur lebih besar ke proyek swasta.
Sukarno merekomendasikan trading buy untuk TOTL dengan target harga Rp1.180, akumulasi beli NRCA dengan target Rp500, serta trading buy SSIA dengan target Rp1.760 per saham.
Selain itu, ia juga memberikan rekomendasi trading buy untuk ADHI dengan target Rp175 dan PTPP dengan target Rp216 per saham bagi investor dengan profil risiko lebih agresif.
Sementara itu, Imam merekomendasikan beli saham TOTL dengan target harga Rp1.110 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Konsolidasi pada Rabu (15/7/2026), Cermati Sentimennya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














