Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih berada dalam tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, prospek logam mulia ini dinilai tetap menarik, terutama dalam jangka panjang sebagai instrumen lindung nilai.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak di kisaran US$4.600-US$4.800 per ons troi hingga akhir tahun ini. Namun, ia mengingatkan bahwa laju kenaikan harga emas ke depan diperkirakan akan lebih moderat dibandingkan dua tahun terakhir.
"Prospek jangka panjang masih positif, tetapi kenaikan diperkirakan akan lebih bertahap," ujar Lukman kepada Kontan, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, emas pada dasarnya bukan instrumen investasi yang ditujukan untuk mengejar imbal hasil tinggi. Sebaliknya, logam mulia ini lebih berperan sebagai aset safe haven atau lindung nilai yang membantu menjaga stabilitas portofolio.
Baca Juga: BEI Luncurkan Fitur REPO SBSN, Bidik Likuiditas Pasar Sukuk Negara
"Sebagai safe haven, emas tetap menjadi bagian dari portofolio karena mampu memberikan perlindungan nilai, meski imbal hasilnya tidak sebesar instrumen berisiko," jelasnya.
Di tengah tren pelemahan harga saat ini, Lukman menilai investor masih dapat memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi. Namun, strategi yang disarankan adalah membeli secara bertahap, bukan sekaligus dalam jumlah besar.
Ia juga mengingatkan bahwa secara teknikal harga emas masih berpotensi melanjutkan koreksi. Menurutnya, area support berada di kisaran US$3.800-US$4.000 per ons troi.
"Di level saat ini cukup menarik untuk akumulasi bertahap, bukan all in, karena masih ada potensi penurunan," tutup Lukman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














